Ini adalah salah satu hasil karya cerpenku pada suatu kompetisi membuat cerpen. So, silahkan dinikmati dan dinilai. Kritik dan saran selalu diterima.... ^.^
*PS: Hargai UU Hak Cipta... Otreee??? ^.^
*PS: Hargai UU Hak Cipta... Otreee??? ^.^
Tetesan Hujan
Hujan sedang turun disini. Di perpanjangan musim semi,
sebelah tenggara kota di selatan Australia, Melbourne.
Mataku melekat pada tetesan-tetesan air hujan yang turun,
yang memukuli kaca tipis jendela kamarku. Suaranya berderap seperti bunyi
hentakan sepatu prajurit yang tengah berbaris. Kuhirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
Kurengkuhkan sweater tipisku lebih erat lagi. Dingin, bukan hanya di kulitku
yang tipis, tapi juga sampai ke ulu hati. Menghadapi semua sikap orang itu.
Yang dingin seperti bekuan es yang membatu…
Aku melemparkan diriku di atas tempat tidur. Memandang
langit-langit putih yang menaungi atas flatku. Memikirkan, dan hanya memikirkan
satu orang belakangan ini selalu memenuhi pikiranku.
Apalah. Memikirkannya hanya membuat hatiku perih dan
sendu. Memenuhi pikiranku dengan pertanyaan-pertanyaan yang penuh entah kapan
akan terjawab.
Dia, si cowok Jepang itu. Fakultas kedokteran di
University of Melbourne. Dengan semua yang dia punya yang membuatku selalu
berpikir aneh.
Tsunehisa… apa yang ada dalam pikiranmu? Seperti menabur
benih lalu kau tinggalkan begitu saja. Tidak peduli entah benih itu berbunga
atau tidak. Sedangkan semaian sang bunga, mekar, menunggu si pemilik untuk
merawatnya, sebelum bunga itu layu dan mati, bahkan sebelum sempat berkembang.
Bahkan sebelum si bunga dapat memberi tahu si penanam bahwa ia berhasil
menanam. Bahwa dia berhasil mencipatakannya…
Mataku terpejam. Suara hujan yang berderap terdengar
samar di luar sana. Dan saat hujan berhenti, pikiranku pergi entah kemana,
terhanyut dalam kegelapan mimpi…
***
Dear diary…
Cinta ini beku dan dingin. Sedingin sikap dia yang selalu
membuatku bertanya-tanya. Apakah dia tahu, apakah dia hanya main-main, sejauh
itu, aku tidak pernah tahu.
Dia pernah mengatakan satu kata yang membuatku bergetar.
Satu kata yang membuat jutaan kupu-kupu berdesingan di dalam perutku. Apa? Apa
yang terjadi?
Mungkin dia hanya main-main. Atau mungkin menganggap
semua ini lelucon, yang pantas ditertawakan. Tapi, apakah dia sejahat itu?
Sikapnya yang membuatku bimbang sampai saat ini. Seperti
mencari celah dalam karang besar. Seperti mencoba membuka sebuah gerbang besar
yang terkunci rapat. Dia, bersikap seperti semua ini tidak pernah terjadi.
Apakah aku hanya terlalu banyak berharap, ataukah hanya
terlalu jauh menanggapi semua yang dikatakannya yang mungkin, hanya sebuah
permainan. Sampai saat ini, aku masih mencari jawabannya…
Apakah dia tahu bahwa aku berharap? Dan apakah dia sadar
kalau aku sedang menunggunya? Menunggu arti semua perkataannya tempo hari?
Biarlah jika semua itu hanya permainan. Aku ikhlas. Tapi aku tetap butuh
kepastian. Kepastian yang bisa membuatku bernapas lega. Entah pahit atau manis
pada kenyataannya, paling tidak, aku sudah berhenti bertanya-tanya…
Dia yang berhasil membekukan hatiku dengan sikap
dinginnya… Tsunehisa…
***
Ada satu lagi ganjalan yang tersisa di hatiku. Perlakuan
saudara kembarnya yang berbeda seratus delapan puluh derajat darinya. Itu membuat
hatiku semakin bimbang. Sampai satu perkataan selalu hinggap di kepalaku, tapi
tidak pernah terlontarkan; “Apa yang harus kulakukan dengan semua ini?”
Tapi kenyataannya, aku terlalu pengecut untuk melontarkannya.
Aku terlalu polos, kaku, atau mungkin penakut. Rasanya, dan jika aku berani,
aku ingin menemui cowok calon dokter yang sinis itu, melonjak di depannya,
menggebrak meja di depan mukanya, dan berteriak seperti, “Heh, apa benar yang
kau katakan tempo hari padaku?”
Yang ada mungkin dia akan kaget, dengan memasang muka
paling menyebalkan dan memandangku seperti aku ini gadis bodoh, yang,
benar-benar bodoh.
Lalu, apa yang harus aku lakukan? Kenyataannya, aku hanya
bisa diam. Membiarkan semua ini terjadi. Melesakkan sejuta pertanyaan yang
mengganggu pikiranku semakin ke dalam. Sehingga tidak lagi muncul ke permukaan.
Semoga saja, aku bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Entah sampai kapan…
***
Pertengahan musim semi… Puncak menara utara, kastil
kampus University of Melbourne…
Menghirup udara segar musim semi yang dingin. Dan
menghembuskannya kembali. Terasa segar sekali. Ketika butir butir embun
melewati batang hidungku.
Kulayangkan pandanganku ke hamparan taman yang hijau di
depan kampus. Beberapa anak terlihat duduk-duduk sambil bercanda di bawah pohon-pohon
besar, melindungi diri dari sengatan sinar matahari siang.
Pandanganku sendiri jatuh pada bawah pohon apel di tengah
taman, dimana sosok seorang cowok sedang membaca buku dengan seriusnya. Dan
cara dia duduk, cara dia membaca, aku tahu sekali siapa dia…
Dan aku tersenyum samar…
Bahagia sekali, bisa mengawasinya dari sini, dimana dia
tidak menyadarinya. Mengawasi gerak matanya dari kiri ke kanan. Mengawasinya
menyibak lembar buku berikutnya.
Dan mungkin aku terlalu asyik, sampai aku tidak menyadari
kedatangan Kenji di belakangku, yang tersenyum melihat tingkahku.
“Beralih profesi jadi pengintip, ya?” suaranya yang
tiba-tiba membuatku tersentak. Aku langsung menoleh ke belakang. Kulihat Kenji
tersenyum jahil di sampingku. Aku mendengus kecil.
“Kau ini,” kataku pelan. Kita bedua sama-sama sedang
mengawasi Tsu sekarang. “Selalu muncul tiba-tiba.”
Kenji tertawa kecil. Sekilas, dia terlihat persis seperti
sosok kembarannya di bawah sana.
Meskipun mereka sama sekali berbeda. Tapi bagaimana pun, mereka adalah
sepasang anak kembar, dimana mereka mempunyai wajah yang identik.
Kembar… tiba-tiba muncul di pikiranku. Ya, mungkin Kenji
tahu sebabnya, mungkin dia tahu sesuatu…
Aku berdehem. “Kenji…”
“Hmm?”
“Bolehkah aku mengatakan sesuatu?”
Kenji tampak terdiam sebentar, tapi lalu mengatakan,
“Katakanlah!”
Aku menghela napas pelan. Haruskah aku mengatakannya? Aku
memejamkan mata sebentar untuk menghilangkan keraguan. Ya, aku harus
mengatakannya. “Tapi ini tentang…”
“Tsu?” Kenji menebak dengan tepat.
“Bingo!” ucapku lemah. Dia tahu, akhirnya aku tidak perlu
menyebutkan nama pria dingin itu. “Aku tidak tahu kenapa, tapi sejak dia…”
Aku berhenti. Mengingat aku belum menceritakan apa yang
terjadi di tempat ini tempo hari kepada siapapun.
“Sejak dia…?”
“Aku tidak tahu apakah dia sudah menceritakannya
kepadamu, tapi dia telah mengatakan suatu hal yang tidak masuk akal bagiku,”
aku memutar perkataanku.
“Aku tahu maksudmu,” kata Kenji tenang. “Yah, dia sudah
menceritakannya.”
Aku terperanjat. Kemungkinan Kenji tahu memang besar,
tapi diam-diam aku berharap Kenji tidak tahu.
“Dan sejak itu pula, dia terlihat berbeda,” aku menghembus
napas pelan. “Mungkin aku berlebihan, atau terlalu percaya diri, tapi pantaskah
aku mengharapkan kepastian darinya?”
Kenji terdiam. Dia menoleh menghadapku. Menatap lurus ke
jantung mataku. Tiba-tiba, rasanya aku ingin menangis.
“Jujur saja,” dia memutar badannya ke depan lagi. “Aku
sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, Mandy.”
“Dan masalahmu dengan Tsu, aku tidak tahu. Tapi mungkin
aku tidak bisa ikut campur.” Katanya lagi.
“Tapi katamu aku sudah kauanggap sebagai adikmu sendiri?”
“Meskipun. Meskipun juga Tsu saudaraku. Dan meskipun juga
kau sudah kuanggap sebagai adikku, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk
mencampuri masalah perasaan kalian.”
Kenji… dia bahkan tidak mau bersikap terbuka. Lama-lama
aku paham, kenapa mereka disebut saudara kembar.
“Dia itu… seperti apa? Menurutmu?” tanyaku hati-hati.
Kenji menghirup napas panjang dan menghembuskannya.
“Tsunehisa Kenji. Ya, kita kembar, mempunyai nama yang sama dan wajah yang
identik. Dia, yang lahir 35 menit lebih dulu daripada aku.”
“Dan dia, seperti yang kau tahu, dia jauh berbeda dari
aku. Konsisten, dingin, dan menyerahkan semua hal pada logika.”
“Termasuk masalah cinta?”
“Mungkin,” dia mengangkat bahu. “Meskipun kita tumbuh
bersama selama 20 tahun ini, aku juga seperti belum sepenuhnya mengenalnya. Aku
juga masih memahami dan ‘menelusuri’nya. Karena banyak hal yang belum kuketahui
darinya.”
Bahkan saudara kembarnya pun tidak tahu… Tsue… kau ini…
Benar-benar…
“Tapi aku salut,” kata Kenji tiba-tiba. “Selera Tsu
hebat. Dia menyukai gadis cuek, acuh dan tomboy sepertimu.”
Aku memukul lengan Kenji. Haha, bisa-bisanya dia berkata
seperti itu. Aku memang cuek, acuh, tidak seperti kebanyakan gadis lainnya yang
sangat luar biasa memperhatikan penampilan. Aku sama sekali tidak terlalu
peduli. Bagiku, pakaian yang nyaman dan pas itu sudah cukup.
Dan entah kenapa, kini aku bisa bernapas lagi. Dan
tiba-tiba saja punya pikiran seperti; “Entahlah, Tsu, apa yang ada dalam
pikiranmu. Aku disini mungkin akan menunggu kepastianmu, mungkin juga
meninggalkanmu dengan teka-teki itu.”
***
Seorang mahasiswa jurusan teknik informatika di
University of Melbourne. Pecinta gunung dan alam, dan suka dengan kegiatan
renang dan segala sesuatu kegiatan ekstrim yang berhubungan dengan alam. Cuek
dengan penampilan, dan punya style yang sederhana. Itulah aku, Mandy Adelia
Claristha. Selebihnya, aku hanya seorang gadis Indonesia biasa yang kuliah di
kota di selatan Negeri Kanguru itu, Melbourne.
Sudah setahun aku hidup di negeri asing ini. Sudah
setahun pula, aku menghadapi ribuan hal baru. Entah pahit, atau manis. Cinta,
atau persahabatan, semua ada disini dan sudah aku alami.
Dialah Paulina Aldercy, gadis Sydney yang
menyenangkan. Menyenangkan, sebelum dia mulai berubah di awal tahun ajaran ini.
Seorang gadis manis berambut pirang, dengan gaya girly feminimnya. Dia menjadi
sahabatku sampai beberapa bulan yang lalu.
Tapi seperti
berkompromi, dia seperti Tsu, mulai jauh dariku, berubah dingin, sinis, sok dan
menyebalkan. Setiap berpapasan dengannya di koridor misalnya, dia lebih memilih
mendongakkan kepala dengan angkuh dibanding untuk menatapku.
Apa yang
terjadi? Apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul seiring aku
memikirkan mereka berdua. Dan kini, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain
menghembuskan napas berat. Karena aku, mulai merasa kehilangan mereka sekarang…
Tsu memang acuh, cuek dan dingin seperti sekarang. Tapi
itu berbeda. Dia masih menyempatkan mengkritik apa yang aku lakukan.
Menghinaku, mengejekku dan membuat aku selalu merasa seperti gadis bodoh di
depan cowok yang merasa dirinya brilian itu.
Sedangkan sekarang, yah, mungkin ini namanya revolusi.
Dia lebih sering bersikap angkuh dan sinis padaku, daripada memperlakukanku
seperti gadis bodoh seperti dulu.
Diam-diam, hatiku berbisik… Tsu, Pauline… aku merindukan
kalian…
***
Kamis pukul tiga sore… di gedung olahraga timur sebelah
taman…
Tak! Tak!
Suara benturan Epée yang terdengar memenuhi seluruh ruangan. Disana sini terlihat pemain
berkostum Anggar lengkap dengan sarung tangan pelindung dan penutup kepala. Epée
adalah satu dari tiga jenis tongkat
pedang dalam permainan anggar. Pedang itu berbentuk segitiga dan berparit, pada pangkalnya
tebal dan samping keujung kecil, agak kaku. Ujungnya datar dan berpegas dengan
pelindung tangan besar, beratnya 750-770 gram. Pada bagian bawah pedang
digunakan untuk menangkis dan ujungnya untuk menusuk.
Aku
sendiri hanya duduk di pinggir, bersama Jenny, teman satu club renangku yang
kebetulan juga menyukai anggar. Duduk dipinggir, hanya melihat yang lain
bertarung tanpa ada minat untuk bergabung sama sekali.
“Mandy, Mandy.
Coba sini!” seniorku di club anggar, Edward Geoffrey melambai-lambaikan tangan
ke arahku. Dia membuka penutup kepalanya. Peluhnya menetes di pelipisnya dengan
deras. Rupanya dia sudah kalah bertarung.
“Apa?!” balasku malas-malasan. Sejak tadi, aku memang hanya
duduk disini, melihat Edward bertarung dengan salah satu teman yang tidak
kukenal karena dia memakai penutup kepala. Dan setelah setengah jam berlalu,
akhirnya dia kalah juga. Dan kutebak, mungkin sekarang dia menyuruhku
menggantikannya melawan orang itu.
“Ayo, sini!” desaknya lagi. Akhirnya, dengan rasa malas
yang luar biasa, aku bangkit, mengangguk sebentar kearah Jenny.
“Ada apa?” tanyaku. Memandang Edward dengan curiga, sudah
tahu apa yang akan dikatakan cowok ini padaku.
“Gantikan aku. Lawan dia!” Edward membuka tutup botol air
mineral dan meminumnya berteguk-teguk. “Ayo!”
Tapi aku menurut saja. Memasang penutup kepalaku, dan
melakukan upacara singkat sebagai tanda penghormatan sebelum bertanding.
Priiiit!
Suara peluit terdengar. Aku berusaha bermain sebagus
mungkin. Melayangkan Epee-ku sebaik mungkin, berusaha menusukkannya ke tubuh
lawan untuk mendapatkan point.
Tak! Tak! Tak!
Meskipun aku sudah berulang kali mengalahkan Edward, yang
posisinya adalah seniorku, aku merasa kesulitan menghadapinya. Lincah dan
gesit. Melayangkan segala serangan yang hanya bisa kuhalang dengan tangkisan.
Menutup kesempatanku untuk menyerang.
Tak!
Hampir saja Epee-nya mengenai sisi kiriku. Aku
memangkisnya, dan mencoba melucuti senjatanya.
Tak!
Dia terluka. Alat elektronik mencatat Epee-ku mengenai
sisi kanannya. Sehingga aku mendapat point. Dan saat itu, aku mulai menikmati
permainan itu.
Tak! Tak! Tak!
Tapi sepertinya dia tidak bisa menerimanya. Karena dia
lantas memberiku serangan bertubi-tubi. Sisi, kanan, kiri, bawah sampai aku
terkena tusukan di pinggang sebelah kiri. Tidak sakit, hanya nyeri.
Aku masih terus mencoba menangkis serangannya dan
melemparkan serangan balik. Tapi dia cukup kuat. Amat kuat. Karena finalnya, dia
berhasil melemparkan Epee-ku jauh ke tengah, sehingga dia mutlak menang.
Priittt!!!
Dan permainan selesai. Aku menunduk untuk melakukan
pernghormatan. Lelah, aku membuka penutup kepalaku, dimana keringatku mengucur
deras. Panas sekali menggunakan masker itu.
Dan dia pun membuka penutup kepalanya. Saat itu, aku yang
sedang meneguk air mineral dari botolku, hampir tersedak saking kagetnya.
Tsu? Oh, kenapa dia ada disini?
“Permainan yang hebat,” katanya, mendekatiku. “Selain
perenang yang andal, kau juga atlet anggar yang berbakat rupanya.”
“Tapi aku masih kalah darimu,” aku menutup tutup botolku
kembali. “Kau hebat sekali. Aku tidak menyangka kalau itu kau.”
Dia tersenyum. Tapi sebelum aku membalas senyumannya,
Edward sudah mendekat sambil bertepuk tangan seru.
“Hebat, hebat!” serunya. “Kau berhasil menusuknya, Mandy?
Aku saja tidak bisa menyerangnya.”
“Iya, tapi tetap saja aku kalah,” kataku sewot. Ini
seperti penghinaan. Memujiku saat aku kalah telak. Hanya menyisakan satu
tusukan kecil.
“Oh, ya,” Edward mulai berbicara lagi. “Dia sebenarnya
satu angkatan denganku di club anggar ini. Dia juga senior, tapi sempat cuti
selama beberapa bulan karena dia sibuk dengan kedokterannya. Kau sudah
mengenalnya, Mandy?”
Aku yang sedang meneguk minuman lagi, sedikit tersedak
karena kaget. “Oh, ya.” Kataku. “Siapa sih yang tidak kenal si kembar Tsunehisa
Kenji?”
Tsu tersenyum. Bukan menyeringai maksudnya. Mungkin dia
tidak suka dengan kata-kataku yang terakhir.
“Wah, hebat kau tadi,” kata Jenny, setelah aku berhenti
bermain dan kembali ke tempat dudukku semula. “Aku tidak menyangka lho, kalau
itu Tsu. Kebetulah sekali, ya?”
Saat itu, aku benar-benar ingin membungkam mulut anak
itu, karena Tsu sedang berdiri di dekat situ. Karena itu, aku diam saja,
menyibukkan diri dengan mengambil handuk di dalam tas, dan mengusapkannya ke
keningku yang basah karena keringat.
“Kau sehabis ini pulang, kan, Jen?” tanyaku. Berharap aku
punya teman pulang.
“Oh, maaf, Mandy. Hari ini aku ada les piano,” katanya.
“Ini aku baru mau minta izin untuk pulang lebih dulu. Kau pulang sendiri tidak
apa-apa, kan?”
Saat itu aku hanya bisa mengangguk lemas. Flatku memang
tidak jauh dari kampus, namun akan lebih baik lagi jika aku mampunyai teman
seperjalanan pulang.
***
Hujan seperti ditumpahkan dari atas langit sore itu,
pukul lima, di area gedung olahraga. Niatku untuk pulang terpaksa tertunda
karena hujan ini.
Aku berdiri diam menunggu air yang banyak ini berhenti
tercurah dari langit. Ada beberapa murid memang yang bernasib sama denganku,
tapi paling tidak, mereka punya HP yang tidak lowbad sehingga bisa menelpon
taxi atau semacamnya untuk meminta jemputan. Sedangkan aku, terpaksa harus
menunggu, si hujan ini berhenti.
Satu dua anak perlahan berkurang. Hingga sampai setengah
jam, hanya ada satu orang yang tersisa di tempatku menunggu. Seorang cowok yang
bertudung jaketnya yang berwarna biru.
Mulanya aku tidak mengenalnya sama sekali, sampai dia
mendekat kearahku, dan aku sadar kalau itu Tsu. Perasaan tidak nyaman langsung
menyergapku.
Satu menit… dua menit… rasanya lama sekali hujan ini.
Kenapa? Tidak masalah jika aku yang menunggu sendirian disini. Tapi ada Tsu
disini. Aku selalu resah bisa ada didekatnya.
“Hujan semakin deras,” katanya tiba-tiba, lalu menoleh
kearahku. “Kau tidak mau pulang?”
Aku menatap langit sebentar. Memang, tidak ada
tanda-tandanya sebentar lagi hujan berhenti. “Aku tidak membawa payung.”
Jawabku.
Dia lalu melepas jaketnya, merentangkannya sehingga
menutupi sebagian punggungku dan punggungnya. Aku terkesiap.
“Ayo lari,” katanya tanpa basa-basi. Akhirnya, entah
kenapa bisa terjadi, kami berlari bersama di tengah hujan, dibawah satu
naungan, jaket tipis yang kini telah basah kuyup.
Dan jika dia tahu atau merasakan, hatiku sekarang sedang
bergetar, membunyikan genderang gugup yang aneh ke aliran darahku melewati
jantungku ke seluruh tubuh…
***
Ada
yang aneh. Aku bicara
sendiri. Hari sudah malam. Sisa-sisa hujan tadi sore masih membekas.
Kenapa dia suka berubah-ubah? Kadang baik, perhatian,
kadang juga congkak. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi kenapa hatiku bergetar?
Mengaharapkan lebih banyak perhatian darinya? Apakah aku menyukainya?
Aku menghembuskan napas berat. Mungkin benar. Aku mulai
menyukainya. Sejak kami dekat, dan sejak dia mengatakan cinta di depanku. Dan
aku merasa, semua itu tidak sia-sia. Semua itu ditunjukkan dari sikap dan
perhatiannya sore itu, kepadaku.
Aku tersenyum sambil berbaring. Yah, mungkin itu
jawabannya. Dan mungkin, itu adalah akhir dari segala kebimbanganku padanya.
Semoga
semua itu benar… aku tidak
menyadari kalau aku sedang mengigau… semoga
apa yang kautunjukkan padaku itu benar, Tsu…
Dan aku kembali terlelap dengan pikiran tentang orang itu
yang belum tuntas…
***
Hari ini aku sedang gembira karena kemarin…
Aku sedikit berlonjak ketika berangkat ke kampus.
Berharap semua yang dilakukan orang itu kembali dilakukannya hari ini. Paling
tidak, dia sedikit berubah. Itulah harapanku.
Tapi kadang harapan tidak sesuai dengan apa yang terjadi
sebenarnya. Karena harapan hanyalah harapan, yang jika beruntung, harapan itu
akan sesuai dengan takdir.
Dan apa yang terjadi jika harapan itu tidak sesuai dengan
takdir? Itu berarti harapanmu sia-sia. Harapanmu musnah tanpa sisa. Hanya
menyisakan perasaan kecewa dan pahit yang dalam…
Dan itulah yang terjadi padaku siang ini…
Aku sedang berjalan kearah perpustakaan waktu itu, ketika
aku melihat sesuatu yang membuat mataku terbelalak. Hilang, musnah, perih dan
kecewa. Perasaan-perasaan itu tiba-tiba muncul di hatiku ketika melihatnya.
Tsu… Pauline, begitu asyiknya dan mesranya mereka di
bawah pohon apel yang biasa Tsu tempati. Berpelukan seolah dunia ini hanyalah
milik mereka… hanya milik mereka…
Tsu mengahadp kearahku, sedangkan Pauline, dipelukannya
menbelakangiku. Pauline sedikit terisak. Apa mungkin menangis? Atau tertawa?
Mereka tentu tidak menyadari kedatanganku, karena semua
itu masih berlanjut, ketika hatiku bagai tertusuk Epee, dan berdarah, sehingga
aku harus pergi sambil menahan tangis untuk menyembuhkannya.
Tsu,
Pauline… aku mencuci muka
di wasteful kampus. Tidak, tidak mungkin.
Pauline… dia tahu bagaimana perasaanku pada Tsu… dia tahu jelas. Dan aku juga
tahu pasti bahwa dia menyukai Kenji, bukan Tsu… tapi kenapa?
Apabila
perkataan Tsu tempo hari adalah sebuah permainan, paling tidak, jangan kembali
membari harapan seperti kemarin. Sehingga aku tidak akan sakit… paling tidak,
tidak akan sesakit ini…
Aku mengusap mukaku kembali dengan air keran. Tidak
terasa, air mataku ikut mengalir bersama air keran yang menetes. Aku berdesah
pelan. Semua ini… apakah nyata?
***
Hatiku masih terasa tercabik-cabik keesokkan harinya.
Mataku sembap, dan mukaku merah. Dengan segera orang pasti sudah bisa menebak
kalau aku sedang frustasi.
Saat itu, tiba-tiba aku melihat sosok Pauline di tengah
koridor di depanku. Sedang berjalan, sendirian. Entah ada pikiran apa,
tiba-tiba aku sudah mengejarnya dan memegang tangannya untuk mencegahnya pergi.
Merasa tangannya terpegang, dia menoleh. Dan terkejut
seketika ketika mengetahui bahwa aku yang mencekal tangannya. Namun dia
berusaha bersikap senormal mungkin.
“Mandy? Ada apa?” Tanyanya polos, tanpa dosa. Aku
mendengus kecil.
“Apakah kamu munafik?”
“Apa?”
“Apakah kau orang yang munafik?” tanyaku ulang.
Menatapnya dengan sinis.
“Apa maksudmu?” tanyanya kebingungan.
Aku melepaskan genggamanku. “Kau menyukai Tsu?” entah
bagaimana bisa aku mengatakan hal ini. Seperti meluncur saja dari mulutku.
Seperti dipengaruhi oleh sihir yang kuat.
Dia terlihat benar-benar bingung sekarang, “Tsunehisa?
Aku? Menyukainya? Apa maksudmu? Tolong jelaskan, aku benar-benar tidak
mengerti.”
“Jika dari awal kau memang menyukainya, katakanlah kau menyukainya. Jangan membohongiku dan perasaanmu
sendiri dengan mengatakan kau menyukai Kenji,” kataku polos. “Aku tidak marah
seaindainya kau memang benar-benar punya rasa. Itu baik.”
Aku memperhatikan ada raut muka yang berubah. Raut
wajahnya merah, seperti marah, dan campuran antara ketidakpercayaan dan
kekecewaan yang besar.
“Munafik? Kau bilang aku munafik?” dia bicara begitu
kerasnya di depan mukaku. “Siapa yang munafik? Dan siapa yang membohongi
siapa!”
“Apa maksudmu?” sekarang giliran aku yang bingung.
Dia mendengus, tampak jengkel sekaligus marah
sekali.”Siapa yang bilang tertarik kepada si dingin Tsu? Dan siapa yang malah
dekat dengan Kenji? Siapa? Siapa yang mengecewakan siapa? Itu terbalik!”
Saat itu, aku rasanya seperti ditampar keras olehnya,
“Aku… dan Kenji. Oh, aku tidak habis pikir.” Aku kehabisan kata-kata.
“Apa? Kau mau bilang apa?” nada Pauline seperti
menantang.
“Dia hanya menganggapku sebagai adik! Kau tahu? Tidak
seperti apa yang kamu pikirkan!”
“Bohong!”
“Tidak.”
Tiba-tiba terdengar suara tenang yang jelas. Kami
serentak menoleh, dan kaget, ternyata Tsu dan Kenji sudah berada disamping
kami.
“Kenji…” Pauline menutup mulut.
“Itu benar, aku sudah pernah mengatakannya pada Mandy.
Dia hanya kuanggap sebagai adik. Apakah itu cukup?” kata Kenji tenang. Pauline
tercengang. Shock sekaligus tidak siap dengan kedatangan Kenji yang tiba-tiba.
Tiba-tiba, air mata Pauline merebak. “Tapi kenapa? Kenapa
kau tidak menyukainya?”
“Karena aku menyukai gadis lain,” katanya, pelan dan
dalam. Sekali dengar, aku langsung paham maksudnya. Dan semuanya. Dan akhirnya,
Pauline harus memilih. Yah, akhirnya aku yang akan kehilangan semuanya, dan
Pauline yang akan mendapatkannya.
Menyadari posisiku disana yang sudah tidak penting lagi,
aku berbalik, beranjak pergi.
“Mau kemana?” tiba-tiba terdengar suara Tsu. Aku menghela
napas, menahan tangis dan kekecewaan yang baru saja kudapat.
“Well, Pauline harus memilih, kan?” kataku serak, ada
ganjalan tangis yang segera tertumpah ditenggorokkan. “Aku melihatmu kemarin
bersama Pauline. Dan dengan keadaan ini, aku langsung bisa menyimpulkannya.
Begitu, kan?”
Aku berjalan pergi, meninggalkan tiga orang yang mungkin
sedang bertukar perasaan sambil kebingungan mencerna kata-kataku.
Akhirnya… aku menghela tangis. Ini adalah akhirnya…
***
Puncak menara utara… University of Melbourne…
Mungkin aku kuat, mungkin aku cuek, dan mungkin aku
sedikit tomboy… tapi aku tetaplah seorang gadis, yang mempunyai cinta dan hati,
juga perasaan…
Jika aku tidak sanggup menangis di depan mereka semua,
aku mampu menangis di tempat ini, tempat favoritku. Mencurahkan segala sesuatu
yang kurasakan lewat tangisan…
Akhirnya, ini adalah akhirnya…
Berulang kali
hatiku berbisik. Sepertinya sudah ikhlas menerima segala sesuatu yang terburuk
sekalipun. Dan aku hanya bisa menangis dalam diam…
“Dasar bodoh,” tiba-tiba terdengar suara. Aku yang kaget
menoleh, dan menemukan sosok Tsu telah di belakangku. Aku cepat-cepat mengusap
air mata.
“Tsu?”
“Kau pergi dengan kesimpulan yang tidak masuk akal,”
katanya lagi. “Kenapa kau begitu bodoh, sih? Sama sekali tidak mengerti apa
yang aku isyaratkan selama ini.”
“Apa maksudmu?”
Dia berjalan sampai dipinggir balkon. Melihat kebawah
dimana dia sering duduk disana. Dia tersenyum kecil. “Kenapa aku membiarkanmu
mengawasiku dari atas sini? Kenapa aku menolongmu waktu itu? Kenapa aku kembali
ke club anggar yang sudah lama kutinggalkan? Kenapa aku mengantarmu waktu hujan
kemarin? Dan kenapa aku mengatakan hal yang menurutmu tidak masuk akal tempo
hari?”
“Ke… kenapa?” tanyaku, sedikit terisak.
“Karena memang semua itu benar,” katanya pelan. “Karena
apa yang aku curahkan padamu waktu itu adalah curahan hatiku yang sesungguhnya.
Jadi, kenapa kau harus meragukannya selama ini?”
Aku tercengang. Apa? Apa yang dia bicarakan barusan?
Apakah ini nyata? Apakah ini bukanlah sebuah permainan? Jadi dia… Tsu…
Tsunehisa…
Dan aku mengerti, semuanya, sepenuhnya mengerti apa yang
dibicarakannya. Dan aku juga percaya, sepenuhnya, tanpa keraguan sedikitpun.
“Lalu Pauline?” aku mencoba menanyakannya. Tapi Tsu malah
tertawa kecil.
“Dia menyukai Kenji dari awal, gadis bodoh!” katanya.
“Dan dia menjauhimu karena dia pikir kau telah merebut Kenji-nya. Kemarin dia
hanya mencurahkan semuanya dipelukanku. Karena dia juga menangis.”
Jadi begitu… ja… jadi aku salah? Jadi mereka… oh, aku
tidak bisa berpikir jernih.
“Dan setelah aku melihatmu menangis disini karena mengira
yang tidak-tidak, aku akhirnya menemukan jawabannya,” katanya lagi, dengan
suara lembut. “Kita mempunyai perasaan yang sama.”
Aku terbangun dari lamunanku dan tersenyum lebar. “Ya,
perasaan yang sama. Dan apakah itu akan menjadi sebuah ikatan?” aku memandang
kearahnya. Lurus, penuh harap.
“Jika itu yang seharusnya terjadi,” katanya lembut,
melebarkan senyumku yang sudah lebar.
Dan akhirnya… aku menemukan akhirnya. Sebuah kejelasan,
dan kesalahpahaman yang nyaris membutakanku. Bahwa dialah yang selama ini
mencari jawaban, bukan aku. Bahwa dialah yang kebingungan, bukan aku. Dan bahwa
dialah yang lebih dulu mencintaiku, bukan aku… dan bahwa dialah orang yang
benar-benar bisa membekukan hatiku…
“Oh, ya,” aku ingin menanyakan hal yang dari dulu sangat
ingin kutanyakan. “Kenapa kau selalu mengatai aku bodoh?”
“Karena kau tidak segera menyadari,” katanya. “Meskipun
sudah lama aku mengisyaratkannya. Apakah semua itu kurang jelas?”
Mengisyaratkannya? Apakah itu cukup? Sebuah kejelasan
adalah yang utama. Aku tidak bisa menebak perasaanmu yang sulit ditembus itu. Dasar,
cowok aneh… Namun diam-diam, tersenyum dalam hati…
Dan tiba-tiba, turun hujan…
“Hujan,” kata kami, bersamaan. Tersenyum bersama
menghadapi ribuan tetesan hujan yang mengingatkan kepada satu sama lain.
End.
aku dan hujan,,,juga punya kenangan,,,
BalasHapusAssalamu'alaikum, Kakak.. cuma mau ngasih tahu apabila kakak suka sama detective conan, kakak bisa mendownload update animenya disini turtleconan.blogspot.com , Subtitle Indonesia dan akan terus di update...
BalasHapusTerima Kasih, kakak.. (Yoruskhu) salam kenal yak.. ^_^
keren cerpennya :) aku suka yg beku :) kapan-kapan bikin lagi ya:) aku tunggu
BalasHapus