Rabu, 17 Oktober 2012

Cerpen: Tetesan Hujan


Ini adalah salah satu hasil karya cerpenku pada suatu kompetisi membuat cerpen. So, silahkan dinikmati dan dinilai. Kritik dan saran selalu diterima.... ^.^
*PS: Hargai UU Hak Cipta... Otreee??? ^.^


Tetesan Hujan


Hujan sedang turun disini. Di perpanjangan musim semi, sebelah tenggara kota di selatan Australia, Melbourne.
Mataku melekat pada tetesan-tetesan air hujan yang turun, yang memukuli kaca tipis jendela kamarku. Suaranya berderap seperti bunyi hentakan sepatu prajurit yang tengah berbaris. Kuhirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kurengkuhkan sweater tipisku lebih erat lagi. Dingin, bukan hanya di kulitku yang tipis, tapi juga sampai ke ulu hati. Menghadapi semua sikap orang itu. Yang dingin seperti bekuan es yang membatu…
Aku melemparkan diriku di atas tempat tidur. Memandang langit-langit putih yang menaungi atas flatku. Memikirkan, dan hanya memikirkan satu orang belakangan ini selalu memenuhi pikiranku.
Apalah. Memikirkannya hanya membuat hatiku perih dan sendu. Memenuhi pikiranku dengan pertanyaan-pertanyaan yang penuh entah kapan akan terjawab.
Dia, si cowok Jepang itu. Fakultas kedokteran di University of Melbourne. Dengan semua yang dia punya yang membuatku selalu berpikir aneh.
Tsunehisa… apa yang ada dalam pikiranmu? Seperti menabur benih lalu kau tinggalkan begitu saja. Tidak peduli entah benih itu berbunga atau tidak. Sedangkan semaian sang bunga, mekar, menunggu si pemilik untuk merawatnya, sebelum bunga itu layu dan mati, bahkan sebelum sempat berkembang. Bahkan sebelum si bunga dapat memberi tahu si penanam bahwa ia berhasil menanam. Bahwa dia berhasil mencipatakannya…
Mataku terpejam. Suara hujan yang berderap terdengar samar di luar sana. Dan saat hujan berhenti, pikiranku pergi entah kemana, terhanyut dalam kegelapan mimpi…
***
Dear diary…
Cinta ini beku dan dingin. Sedingin sikap dia yang selalu membuatku bertanya-tanya. Apakah dia tahu, apakah dia hanya main-main, sejauh itu, aku tidak pernah tahu.
Dia pernah mengatakan satu kata yang membuatku bergetar. Satu kata yang membuat jutaan kupu-kupu berdesingan di dalam perutku. Apa? Apa yang terjadi?
Mungkin dia hanya main-main. Atau mungkin menganggap semua ini lelucon, yang pantas ditertawakan. Tapi, apakah dia sejahat itu?
Sikapnya yang membuatku bimbang sampai saat ini. Seperti mencari celah dalam karang besar. Seperti mencoba membuka sebuah gerbang besar yang terkunci rapat. Dia, bersikap seperti semua ini tidak pernah terjadi.
Apakah aku hanya terlalu banyak berharap, ataukah hanya terlalu jauh menanggapi semua yang dikatakannya yang mungkin, hanya sebuah permainan. Sampai saat ini, aku masih mencari jawabannya…
Apakah dia tahu bahwa aku berharap? Dan apakah dia sadar kalau aku sedang menunggunya? Menunggu arti semua perkataannya tempo hari? Biarlah jika semua itu hanya permainan. Aku ikhlas. Tapi aku tetap butuh kepastian. Kepastian yang bisa membuatku bernapas lega. Entah pahit atau manis pada kenyataannya, paling tidak, aku sudah berhenti bertanya-tanya…
Dia yang berhasil membekukan hatiku dengan sikap dinginnya… Tsunehisa…
***
Ada satu lagi ganjalan yang tersisa di hatiku. Perlakuan saudara kembarnya yang berbeda seratus delapan puluh derajat darinya. Itu membuat hatiku semakin bimbang. Sampai satu perkataan selalu hinggap di kepalaku, tapi tidak pernah terlontarkan; “Apa yang harus kulakukan dengan semua ini?”
Tapi kenyataannya, aku terlalu pengecut untuk melontarkannya. Aku terlalu polos, kaku, atau mungkin penakut. Rasanya, dan jika aku berani, aku ingin menemui cowok calon dokter yang sinis itu, melonjak di depannya, menggebrak meja di depan mukanya, dan berteriak seperti, “Heh, apa benar yang kau katakan tempo hari padaku?”
Yang ada mungkin dia akan kaget, dengan memasang muka paling menyebalkan dan memandangku seperti aku ini gadis bodoh, yang, benar-benar bodoh.
Lalu, apa yang harus aku lakukan? Kenyataannya, aku hanya bisa diam. Membiarkan semua ini terjadi. Melesakkan sejuta pertanyaan yang mengganggu pikiranku semakin ke dalam. Sehingga tidak lagi muncul ke permukaan. Semoga saja, aku bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Entah sampai kapan…
***
Pertengahan musim semi… Puncak menara utara, kastil kampus University of Melbourne…
Menghirup udara segar musim semi yang dingin. Dan menghembuskannya kembali. Terasa segar sekali. Ketika butir butir embun melewati batang hidungku.
Kulayangkan pandanganku ke hamparan taman yang hijau di depan kampus. Beberapa anak terlihat duduk-duduk sambil bercanda di bawah pohon-pohon besar, melindungi diri dari sengatan sinar matahari siang.
Pandanganku sendiri jatuh pada bawah pohon apel di tengah taman, dimana sosok seorang cowok sedang membaca buku dengan seriusnya. Dan cara dia duduk, cara dia membaca, aku tahu sekali siapa dia…
Dan aku tersenyum samar…
Bahagia sekali, bisa mengawasinya dari sini, dimana dia tidak menyadarinya. Mengawasi gerak matanya dari kiri ke kanan. Mengawasinya menyibak lembar buku berikutnya.
Dan mungkin aku terlalu asyik, sampai aku tidak menyadari kedatangan Kenji di belakangku, yang tersenyum melihat tingkahku.
“Beralih profesi jadi pengintip, ya?” suaranya yang tiba-tiba membuatku tersentak. Aku langsung menoleh ke belakang. Kulihat Kenji tersenyum jahil di sampingku. Aku mendengus kecil.
“Kau ini,” kataku pelan. Kita bedua sama-sama sedang mengawasi Tsu sekarang. “Selalu muncul tiba-tiba.”
Kenji tertawa kecil. Sekilas, dia terlihat persis seperti sosok kembarannya di bawah sana.  Meskipun mereka sama sekali berbeda. Tapi bagaimana pun, mereka adalah sepasang anak kembar, dimana mereka mempunyai wajah yang identik.
Kembar… tiba-tiba muncul di pikiranku. Ya, mungkin Kenji tahu sebabnya, mungkin dia tahu sesuatu…
Aku berdehem. “Kenji…”
“Hmm?”
“Bolehkah aku mengatakan sesuatu?”
Kenji tampak terdiam sebentar, tapi lalu mengatakan, “Katakanlah!”
Aku menghela napas pelan. Haruskah aku mengatakannya? Aku memejamkan mata sebentar untuk menghilangkan keraguan. Ya, aku harus mengatakannya. “Tapi ini tentang…”
“Tsu?” Kenji menebak dengan tepat.
“Bingo!” ucapku lemah. Dia tahu, akhirnya aku tidak perlu menyebutkan nama pria dingin itu. “Aku tidak tahu kenapa, tapi sejak dia…”
Aku berhenti. Mengingat aku belum menceritakan apa yang terjadi di tempat ini tempo hari kepada siapapun.
“Sejak dia…?”
“Aku tidak tahu apakah dia sudah menceritakannya kepadamu, tapi dia telah mengatakan suatu hal yang tidak masuk akal bagiku,” aku memutar perkataanku.
“Aku tahu maksudmu,” kata Kenji tenang. “Yah, dia sudah menceritakannya.”
Aku terperanjat. Kemungkinan Kenji tahu memang besar, tapi diam-diam aku berharap Kenji tidak tahu.
“Dan sejak itu pula, dia terlihat berbeda,” aku menghembus napas pelan. “Mungkin aku berlebihan, atau terlalu percaya diri, tapi pantaskah aku mengharapkan kepastian darinya?”
Kenji terdiam. Dia menoleh menghadapku. Menatap lurus ke jantung mataku. Tiba-tiba, rasanya aku ingin menangis.
“Jujur saja,” dia memutar badannya ke depan lagi. “Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, Mandy.”
“Dan masalahmu dengan Tsu, aku tidak tahu. Tapi mungkin aku tidak bisa ikut campur.” Katanya lagi.
“Tapi katamu aku sudah kauanggap sebagai adikmu sendiri?”
“Meskipun. Meskipun juga Tsu saudaraku. Dan meskipun juga kau sudah kuanggap sebagai adikku, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mencampuri masalah perasaan kalian.”
Kenji… dia bahkan tidak mau bersikap terbuka. Lama-lama aku paham, kenapa mereka disebut saudara kembar.
“Dia itu… seperti apa? Menurutmu?” tanyaku hati-hati.
Kenji menghirup napas panjang dan menghembuskannya. “Tsunehisa Kenji. Ya, kita kembar, mempunyai nama yang sama dan wajah yang identik. Dia, yang lahir 35 menit lebih dulu daripada aku.”
“Dan dia, seperti yang kau tahu, dia jauh berbeda dari aku. Konsisten, dingin, dan menyerahkan semua hal pada logika.”
“Termasuk masalah cinta?”
“Mungkin,” dia mengangkat bahu. “Meskipun kita tumbuh bersama selama 20 tahun ini, aku juga seperti belum sepenuhnya mengenalnya. Aku juga masih memahami dan ‘menelusuri’nya. Karena banyak hal yang belum kuketahui darinya.”
Bahkan saudara kembarnya pun tidak tahu… Tsue… kau ini… Benar-benar…
“Tapi aku salut,” kata Kenji tiba-tiba. “Selera Tsu hebat. Dia menyukai gadis cuek, acuh dan tomboy sepertimu.”
Aku memukul lengan Kenji. Haha, bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Aku memang cuek, acuh, tidak seperti kebanyakan gadis lainnya yang sangat luar biasa memperhatikan penampilan. Aku sama sekali tidak terlalu peduli. Bagiku, pakaian yang nyaman dan pas itu sudah cukup.
Dan entah kenapa, kini aku bisa bernapas lagi. Dan tiba-tiba saja punya pikiran seperti; “Entahlah, Tsu, apa yang ada dalam pikiranmu. Aku disini mungkin akan menunggu kepastianmu, mungkin juga meninggalkanmu dengan teka-teki itu.”
***
Seorang mahasiswa jurusan teknik informatika di University of Melbourne. Pecinta gunung dan alam, dan suka dengan kegiatan renang dan segala sesuatu kegiatan ekstrim yang berhubungan dengan alam. Cuek dengan penampilan, dan punya style yang sederhana. Itulah aku, Mandy Adelia Claristha. Selebihnya, aku hanya seorang gadis Indonesia biasa yang kuliah di kota di selatan Negeri Kanguru itu, Melbourne.
Sudah setahun aku hidup di negeri asing ini. Sudah setahun pula, aku menghadapi ribuan hal baru. Entah pahit, atau manis. Cinta, atau persahabatan, semua ada disini dan sudah aku alami.
Dialah Paulina Aldercy, gadis Sydney yang menyenangkan. Menyenangkan, sebelum dia mulai berubah di awal tahun ajaran ini. Seorang gadis manis berambut pirang, dengan gaya girly feminimnya. Dia menjadi sahabatku sampai beberapa bulan yang lalu.
Tapi seperti berkompromi, dia seperti Tsu, mulai jauh dariku, berubah dingin, sinis, sok dan menyebalkan. Setiap berpapasan dengannya di koridor misalnya, dia lebih memilih mendongakkan kepala dengan angkuh dibanding untuk menatapku.
Apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul seiring aku memikirkan mereka berdua. Dan kini, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menghembuskan napas berat. Karena aku, mulai merasa kehilangan mereka sekarang…
Tsu memang acuh, cuek dan dingin seperti sekarang. Tapi itu berbeda. Dia masih menyempatkan mengkritik apa yang aku lakukan. Menghinaku, mengejekku dan membuat aku selalu merasa seperti gadis bodoh di depan cowok yang merasa dirinya brilian itu.
Sedangkan sekarang, yah, mungkin ini namanya revolusi. Dia lebih sering bersikap angkuh dan sinis padaku, daripada memperlakukanku seperti gadis bodoh seperti dulu.
Diam-diam, hatiku berbisik… Tsu, Pauline… aku merindukan kalian…
***
Kamis pukul tiga sore… di gedung olahraga timur sebelah taman…
Tak! Tak!
Suara benturan Epée yang terdengar memenuhi seluruh ruangan. Disana sini terlihat pemain berkostum Anggar lengkap dengan sarung tangan pelindung dan penutup kepala. Epée  adalah satu dari tiga jenis tongkat pedang dalam permainan anggar.  Pedang itu berbentuk segitiga dan berparit, pada pangkalnya tebal dan samping keujung kecil, agak kaku. Ujungnya datar dan berpegas dengan pelindung tangan besar, beratnya 750-770 gram. Pada bagian bawah pedang digunakan untuk menangkis dan ujungnya untuk menusuk.
Aku sendiri hanya duduk di pinggir, bersama Jenny, teman satu club renangku yang kebetulan juga menyukai anggar. Duduk dipinggir, hanya melihat yang lain bertarung tanpa ada minat untuk bergabung sama sekali.
“Mandy, Mandy. Coba sini!” seniorku di club anggar, Edward Geoffrey melambai-lambaikan tangan ke arahku. Dia membuka penutup kepalanya. Peluhnya menetes di pelipisnya dengan deras. Rupanya dia sudah kalah bertarung.
“Apa?!” balasku malas-malasan. Sejak tadi, aku memang hanya duduk disini, melihat Edward bertarung dengan salah satu teman yang tidak kukenal karena dia memakai penutup kepala. Dan setelah setengah jam berlalu, akhirnya dia kalah juga. Dan kutebak, mungkin sekarang dia menyuruhku menggantikannya melawan orang itu.
“Ayo, sini!” desaknya lagi. Akhirnya, dengan rasa malas yang luar biasa, aku bangkit, mengangguk sebentar kearah Jenny.
“Ada apa?” tanyaku. Memandang Edward dengan curiga, sudah tahu apa yang akan dikatakan cowok ini padaku.
“Gantikan aku. Lawan dia!” Edward membuka tutup botol air mineral dan meminumnya berteguk-teguk. “Ayo!”
Tapi aku menurut saja. Memasang penutup kepalaku, dan melakukan upacara singkat sebagai tanda penghormatan sebelum bertanding.
Priiiit!
Suara peluit terdengar. Aku berusaha bermain sebagus mungkin. Melayangkan Epee-ku sebaik mungkin, berusaha menusukkannya ke tubuh lawan untuk mendapatkan point.
Tak! Tak! Tak!
Meskipun aku sudah berulang kali mengalahkan Edward, yang posisinya adalah seniorku, aku merasa kesulitan menghadapinya. Lincah dan gesit. Melayangkan segala serangan yang hanya bisa kuhalang dengan tangkisan. Menutup kesempatanku untuk menyerang.
Tak!
Hampir saja Epee-nya mengenai sisi kiriku. Aku memangkisnya, dan mencoba melucuti senjatanya.
Tak!
Dia terluka. Alat elektronik mencatat Epee-ku mengenai sisi kanannya. Sehingga aku mendapat point. Dan saat itu, aku mulai menikmati permainan itu.
Tak! Tak! Tak!
Tapi sepertinya dia tidak bisa menerimanya. Karena dia lantas memberiku serangan bertubi-tubi. Sisi, kanan, kiri, bawah sampai aku terkena tusukan di pinggang sebelah kiri. Tidak sakit, hanya nyeri.
Aku masih terus mencoba menangkis serangannya dan melemparkan serangan balik. Tapi dia cukup kuat. Amat kuat. Karena finalnya, dia berhasil melemparkan Epee-ku jauh ke tengah, sehingga dia mutlak menang.
Priittt!!!
Dan permainan selesai. Aku menunduk untuk melakukan pernghormatan. Lelah, aku membuka penutup kepalaku, dimana keringatku mengucur deras. Panas sekali menggunakan masker itu.
Dan dia pun membuka penutup kepalanya. Saat itu, aku yang sedang meneguk air mineral dari botolku, hampir tersedak saking kagetnya.
Tsu? Oh, kenapa dia ada disini?
“Permainan yang hebat,” katanya, mendekatiku. “Selain perenang yang andal, kau juga atlet anggar yang berbakat rupanya.”
“Tapi aku masih kalah darimu,” aku menutup tutup botolku kembali. “Kau hebat sekali. Aku tidak menyangka kalau itu kau.”
Dia tersenyum. Tapi sebelum aku membalas senyumannya, Edward sudah mendekat sambil bertepuk tangan seru.
“Hebat, hebat!” serunya. “Kau berhasil menusuknya, Mandy? Aku saja tidak bisa menyerangnya.”
“Iya, tapi tetap saja aku kalah,” kataku sewot. Ini seperti penghinaan. Memujiku saat aku kalah telak. Hanya menyisakan satu tusukan kecil.
“Oh, ya,” Edward mulai berbicara lagi. “Dia sebenarnya satu angkatan denganku di club anggar ini. Dia juga senior, tapi sempat cuti selama beberapa bulan karena dia sibuk dengan kedokterannya. Kau sudah mengenalnya, Mandy?”
Aku yang sedang meneguk minuman lagi, sedikit tersedak karena kaget. “Oh, ya.” Kataku. “Siapa sih yang tidak kenal si kembar Tsunehisa Kenji?”
Tsu tersenyum. Bukan menyeringai maksudnya. Mungkin dia tidak suka dengan kata-kataku yang terakhir.
“Wah, hebat kau tadi,” kata Jenny, setelah aku berhenti bermain dan kembali ke tempat dudukku semula. “Aku tidak menyangka lho, kalau itu Tsu. Kebetulah sekali, ya?”
Saat itu, aku benar-benar ingin membungkam mulut anak itu, karena Tsu sedang berdiri di dekat situ. Karena itu, aku diam saja, menyibukkan diri dengan mengambil handuk di dalam tas, dan mengusapkannya ke keningku yang basah karena keringat.
“Kau sehabis ini pulang, kan, Jen?” tanyaku. Berharap aku punya teman pulang.
“Oh, maaf, Mandy. Hari ini aku ada les piano,” katanya. “Ini aku baru mau minta izin untuk pulang lebih dulu. Kau pulang sendiri tidak apa-apa, kan?”
Saat itu aku hanya bisa mengangguk lemas. Flatku memang tidak jauh dari kampus, namun akan lebih baik lagi jika aku mampunyai teman seperjalanan pulang.
***
Hujan seperti ditumpahkan dari atas langit sore itu, pukul lima, di area gedung olahraga. Niatku untuk pulang terpaksa tertunda karena hujan ini.
Aku berdiri diam menunggu air yang banyak ini berhenti tercurah dari langit. Ada beberapa murid memang yang bernasib sama denganku, tapi paling tidak, mereka punya HP yang tidak lowbad sehingga bisa menelpon taxi atau semacamnya untuk meminta jemputan. Sedangkan aku, terpaksa harus menunggu, si hujan ini berhenti.
Satu dua anak perlahan berkurang. Hingga sampai setengah jam, hanya ada satu orang yang tersisa di tempatku menunggu. Seorang cowok yang bertudung jaketnya yang berwarna biru.
Mulanya aku tidak mengenalnya sama sekali, sampai dia mendekat kearahku, dan aku sadar kalau itu Tsu. Perasaan tidak nyaman langsung menyergapku.
Satu menit… dua menit… rasanya lama sekali hujan ini. Kenapa? Tidak masalah jika aku yang menunggu sendirian disini. Tapi ada Tsu disini. Aku selalu resah bisa ada didekatnya.
“Hujan semakin deras,” katanya tiba-tiba, lalu menoleh kearahku. “Kau tidak mau pulang?”
Aku menatap langit sebentar. Memang, tidak ada tanda-tandanya sebentar lagi hujan berhenti. “Aku tidak membawa payung.” Jawabku.
Dia lalu melepas jaketnya, merentangkannya sehingga menutupi sebagian punggungku dan punggungnya. Aku terkesiap.
“Ayo lari,” katanya tanpa basa-basi. Akhirnya, entah kenapa bisa terjadi, kami berlari bersama di tengah hujan, dibawah satu naungan, jaket tipis yang kini telah basah kuyup.
Dan jika dia tahu atau merasakan, hatiku sekarang sedang bergetar, membunyikan genderang gugup yang aneh ke aliran darahku melewati jantungku ke seluruh tubuh…
***
Ada yang aneh. Aku bicara sendiri. Hari sudah malam. Sisa-sisa hujan tadi sore masih membekas.
Kenapa dia suka berubah-ubah? Kadang baik, perhatian, kadang juga congkak. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi kenapa hatiku bergetar? Mengaharapkan lebih banyak perhatian darinya? Apakah aku menyukainya?
Aku menghembuskan napas berat. Mungkin benar. Aku mulai menyukainya. Sejak kami dekat, dan sejak dia mengatakan cinta di depanku. Dan aku merasa, semua itu tidak sia-sia. Semua itu ditunjukkan dari sikap dan perhatiannya sore itu, kepadaku.
Aku tersenyum sambil berbaring. Yah, mungkin itu jawabannya. Dan mungkin, itu adalah akhir dari segala kebimbanganku padanya.
Semoga semua itu benar… aku tidak menyadari kalau aku sedang mengigau… semoga apa yang kautunjukkan padaku itu benar, Tsu…
Dan aku kembali terlelap dengan pikiran tentang orang itu yang belum tuntas…
***
Hari ini aku sedang gembira karena kemarin…
Aku sedikit berlonjak ketika berangkat ke kampus. Berharap semua yang dilakukan orang itu kembali dilakukannya hari ini. Paling tidak, dia sedikit berubah. Itulah harapanku.
Tapi kadang harapan tidak sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya. Karena harapan hanyalah harapan, yang jika beruntung, harapan itu akan sesuai dengan takdir.
Dan apa yang terjadi jika harapan itu tidak sesuai dengan takdir? Itu berarti harapanmu sia-sia. Harapanmu musnah tanpa sisa. Hanya menyisakan perasaan kecewa dan pahit yang dalam…
Dan itulah yang terjadi padaku siang ini…
Aku sedang berjalan kearah perpustakaan waktu itu, ketika aku melihat sesuatu yang membuat mataku terbelalak. Hilang, musnah, perih dan kecewa. Perasaan-perasaan itu tiba-tiba muncul di hatiku ketika melihatnya.
Tsu… Pauline, begitu asyiknya dan mesranya mereka di bawah pohon apel yang biasa Tsu tempati. Berpelukan seolah dunia ini hanyalah milik mereka… hanya milik mereka…
Tsu mengahadp kearahku, sedangkan Pauline, dipelukannya menbelakangiku. Pauline sedikit terisak. Apa mungkin menangis? Atau tertawa?
Mereka tentu tidak menyadari kedatanganku, karena semua itu masih berlanjut, ketika hatiku bagai tertusuk Epee, dan berdarah, sehingga aku harus pergi sambil menahan tangis untuk menyembuhkannya.
Tsu, Pauline… aku mencuci muka di wasteful kampus. Tidak, tidak mungkin. Pauline… dia tahu bagaimana perasaanku pada Tsu… dia tahu jelas. Dan aku juga tahu pasti bahwa dia menyukai Kenji, bukan Tsu… tapi kenapa?
Apabila perkataan Tsu tempo hari adalah sebuah permainan, paling tidak, jangan kembali membari harapan seperti kemarin. Sehingga aku tidak akan sakit… paling tidak, tidak akan sesakit ini…
Aku mengusap mukaku kembali dengan air keran. Tidak terasa, air mataku ikut mengalir bersama air keran yang menetes. Aku berdesah pelan. Semua ini… apakah nyata?
***
Hatiku masih terasa tercabik-cabik keesokkan harinya. Mataku sembap, dan mukaku merah. Dengan segera orang pasti sudah bisa menebak kalau aku sedang frustasi.
Saat itu, tiba-tiba aku melihat sosok Pauline di tengah koridor di depanku. Sedang berjalan, sendirian. Entah ada pikiran apa, tiba-tiba aku sudah mengejarnya dan memegang tangannya untuk mencegahnya pergi.
Merasa tangannya terpegang, dia menoleh. Dan terkejut seketika ketika mengetahui bahwa aku yang mencekal tangannya. Namun dia berusaha bersikap senormal mungkin.
“Mandy? Ada apa?” Tanyanya polos, tanpa dosa. Aku mendengus kecil.
“Apakah kamu munafik?”
“Apa?”
“Apakah kau orang yang munafik?” tanyaku ulang. Menatapnya dengan sinis.
“Apa maksudmu?” tanyanya kebingungan.
Aku melepaskan genggamanku. “Kau menyukai Tsu?” entah bagaimana bisa aku mengatakan hal ini. Seperti meluncur saja dari mulutku. Seperti dipengaruhi oleh sihir yang kuat.
Dia terlihat benar-benar bingung sekarang, “Tsunehisa? Aku? Menyukainya? Apa maksudmu? Tolong jelaskan, aku benar-benar tidak mengerti.”
“Jika dari awal kau memang menyukainya, katakanlah kau menyukainya. Jangan membohongiku dan perasaanmu sendiri dengan mengatakan kau menyukai Kenji,” kataku polos. “Aku tidak marah seaindainya kau memang benar-benar punya rasa. Itu baik.”
Aku memperhatikan ada raut muka yang berubah. Raut wajahnya merah, seperti marah, dan campuran antara ketidakpercayaan dan kekecewaan yang besar.
“Munafik? Kau bilang aku munafik?” dia bicara begitu kerasnya di depan mukaku. “Siapa yang munafik? Dan siapa yang membohongi siapa!”
“Apa maksudmu?” sekarang giliran aku yang bingung.
Dia mendengus, tampak jengkel sekaligus marah sekali.”Siapa yang bilang tertarik kepada si dingin Tsu? Dan siapa yang malah dekat dengan Kenji? Siapa? Siapa yang mengecewakan siapa? Itu terbalik!”
Saat itu, aku rasanya seperti ditampar keras olehnya, “Aku… dan Kenji. Oh, aku tidak habis pikir.” Aku kehabisan kata-kata.
“Apa? Kau mau bilang apa?” nada Pauline seperti menantang.
“Dia hanya menganggapku sebagai adik! Kau tahu? Tidak seperti apa yang kamu pikirkan!”
“Bohong!”
“Tidak.”
Tiba-tiba terdengar suara tenang yang jelas. Kami serentak menoleh, dan kaget, ternyata Tsu dan Kenji sudah berada disamping kami.
“Kenji…” Pauline menutup mulut.
“Itu benar, aku sudah pernah mengatakannya pada Mandy. Dia hanya kuanggap sebagai adik. Apakah itu cukup?” kata Kenji tenang. Pauline tercengang. Shock sekaligus tidak siap dengan kedatangan Kenji yang tiba-tiba.
Tiba-tiba, air mata Pauline merebak. “Tapi kenapa? Kenapa kau tidak menyukainya?”
“Karena aku menyukai gadis lain,” katanya, pelan dan dalam. Sekali dengar, aku langsung paham maksudnya. Dan semuanya. Dan akhirnya, Pauline harus memilih. Yah, akhirnya aku yang akan kehilangan semuanya, dan Pauline yang akan mendapatkannya.
Menyadari posisiku disana yang sudah tidak penting lagi, aku berbalik, beranjak pergi.
“Mau kemana?” tiba-tiba terdengar suara Tsu. Aku menghela napas, menahan tangis dan kekecewaan yang baru saja kudapat.
“Well, Pauline harus memilih, kan?” kataku serak, ada ganjalan tangis yang segera tertumpah ditenggorokkan. “Aku melihatmu kemarin bersama Pauline. Dan dengan keadaan ini, aku langsung bisa menyimpulkannya. Begitu, kan?”
Aku berjalan pergi, meninggalkan tiga orang yang mungkin sedang bertukar perasaan sambil kebingungan mencerna kata-kataku.
Akhirnya… aku menghela tangis. Ini adalah akhirnya…
***
Puncak menara utara… University of Melbourne…
Mungkin aku kuat, mungkin aku cuek, dan mungkin aku sedikit tomboy… tapi aku tetaplah seorang gadis, yang mempunyai cinta dan hati, juga perasaan…
Jika aku tidak sanggup menangis di depan mereka semua, aku mampu menangis di tempat ini, tempat favoritku. Mencurahkan segala sesuatu yang kurasakan lewat tangisan…
Akhirnya, ini adalah akhirnya…
 Berulang kali hatiku berbisik. Sepertinya sudah ikhlas menerima segala sesuatu yang terburuk sekalipun. Dan aku hanya bisa menangis dalam diam…
“Dasar bodoh,” tiba-tiba terdengar suara. Aku yang kaget menoleh, dan menemukan sosok Tsu telah di belakangku. Aku cepat-cepat mengusap air mata.
“Tsu?”
“Kau pergi dengan kesimpulan yang tidak masuk akal,” katanya lagi. “Kenapa kau begitu bodoh, sih? Sama sekali tidak mengerti apa yang aku isyaratkan selama ini.”
“Apa maksudmu?”
Dia berjalan sampai dipinggir balkon. Melihat kebawah dimana dia sering duduk disana. Dia tersenyum kecil. “Kenapa aku membiarkanmu mengawasiku dari atas sini? Kenapa aku menolongmu waktu itu? Kenapa aku kembali ke club anggar yang sudah lama kutinggalkan? Kenapa aku mengantarmu waktu hujan kemarin? Dan kenapa aku mengatakan hal yang menurutmu tidak masuk akal tempo hari?”
“Ke… kenapa?” tanyaku, sedikit terisak.
“Karena memang semua itu benar,” katanya pelan. “Karena apa yang aku curahkan padamu waktu itu adalah curahan hatiku yang sesungguhnya. Jadi, kenapa kau harus meragukannya selama ini?”
Aku tercengang. Apa? Apa yang dia bicarakan barusan? Apakah ini nyata? Apakah ini bukanlah sebuah permainan? Jadi dia… Tsu… Tsunehisa…
Dan aku mengerti, semuanya, sepenuhnya mengerti apa yang dibicarakannya. Dan aku juga percaya, sepenuhnya, tanpa keraguan sedikitpun.
“Lalu Pauline?” aku mencoba menanyakannya. Tapi Tsu malah tertawa kecil.
“Dia menyukai Kenji dari awal, gadis bodoh!” katanya. “Dan dia menjauhimu karena dia pikir kau telah merebut Kenji-nya. Kemarin dia hanya mencurahkan semuanya dipelukanku. Karena dia juga menangis.”
Jadi begitu… ja… jadi aku salah? Jadi mereka… oh, aku tidak bisa berpikir jernih.
“Dan setelah aku melihatmu menangis disini karena mengira yang tidak-tidak, aku akhirnya menemukan jawabannya,” katanya lagi, dengan suara lembut. “Kita mempunyai perasaan yang sama.”
Aku terbangun dari lamunanku dan tersenyum lebar. “Ya, perasaan yang sama. Dan apakah itu akan menjadi sebuah ikatan?” aku memandang kearahnya. Lurus, penuh harap.
“Jika itu yang seharusnya terjadi,” katanya lembut, melebarkan senyumku yang sudah lebar.
Dan akhirnya… aku menemukan akhirnya. Sebuah kejelasan, dan kesalahpahaman yang nyaris membutakanku. Bahwa dialah yang selama ini mencari jawaban, bukan aku. Bahwa dialah yang kebingungan, bukan aku. Dan bahwa dialah yang lebih dulu mencintaiku, bukan aku… dan bahwa dialah orang yang benar-benar bisa membekukan hatiku…
“Oh, ya,” aku ingin menanyakan hal yang dari dulu sangat ingin kutanyakan. “Kenapa kau selalu mengatai aku bodoh?”
“Karena kau tidak segera menyadari,” katanya. “Meskipun sudah lama aku mengisyaratkannya. Apakah semua itu kurang jelas?”
Mengisyaratkannya? Apakah itu cukup? Sebuah kejelasan adalah yang utama. Aku tidak bisa menebak perasaanmu yang sulit ditembus itu. Dasar, cowok aneh… Namun diam-diam, tersenyum dalam hati…
Dan tiba-tiba, turun hujan…
“Hujan,” kata kami, bersamaan. Tersenyum bersama menghadapi ribuan tetesan hujan yang mengingatkan kepada satu sama lain.
End.

3 komentar:

  1. aku dan hujan,,,juga punya kenangan,,,

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum, Kakak.. cuma mau ngasih tahu apabila kakak suka sama detective conan, kakak bisa mendownload update animenya disini turtleconan.blogspot.com , Subtitle Indonesia dan akan terus di update...

    Terima Kasih, kakak.. (Yoruskhu) salam kenal yak.. ^_^

    BalasHapus
  3. keren cerpennya :) aku suka yg beku :) kapan-kapan bikin lagi ya:) aku tunggu

    BalasHapus