Udah lama gak nge-blog
yaa. Huaaa. Meskipun aku juga ragu ada yang baca ini atau enggak. Lol. Well,
tapi sebagai media buat mencurahkan keluh kesah, aku rasa gak ada salahnya.
Beberapa waktu yang lalu pernah
curhat masalah mata minus, dan bagaimana beratnya menjalani hari-hari ketika
satu-satunya kacamata yang kaupunyai pecah, dan kau harus menjalani kehidupan
dengan begitu buram, secara literally. Apalagi jika kau mempunyai tingkat mata
minus yang kelewat tinggi.
Setelah itu, aku juga ingin membuat
pengakuan, aku adalah seorang penderita Ectomorph.
Ectomorph sendiri adalah teori yang dikemukakan oleh prsikolog asal Amerika
Serikat bernama William Sheldon pada tahun 40an mengenai teori somatotypes,
sebuah pembagian bentuk tipe tubuh manusia. Teori ini mengkhususkan bahwa tubuh
manusia itu dibagi menjadi tiga, yakni ectomorph, endomorph dan mesomorph. Well,
aku gak akan bahas semuanya disini, namun intinya, dari ketiga tipa itu, aku
termasuk ke dalam ectomorph, sebuah tipe bentuk tubuh yang mempunyai bentuk
tubuh kelewat kurus, dengan problematika utama mereka adalah orang-orang yang
antara struggling atau menikmati
hidup, para penyantap makanan dalam porsi besar namun tetap kurus. Sebenernya gak
semua ectomorph itu ‘pemakan
segalanya’, namun jika dianalogikan, para ectomorph
itu tidak bisa menyimpan lemak dalam jumlah besar, struktur tulang kecil,
pinggul dan bahu yang sempir, wajah kecil dan jidat lebar. (seriuously, itu
semua ciri gue banget. Wkwk). Walaupun makan setruk juga gak akan ada yang
berubah kecuali perut yang membuncit. Orang-orang dengan tipe tubuh seperti ini
biasasanya agak lemah, cukup mudah lelah, namun diluar itu, metabolism tubunya
tinggi, sehingga jarang sakit.
Sebenarnya aku sendiri sudah lama tahu
bahwa aku menderita ectomorph, tapi
entah kenapa aku yang biasanya cuek aja, cenderung mensyukuri anugerah bisa
makan banyak tanpa takut gemuk, namun akhir akhir ini masalah ini jadi pikiran
juga. Mungkin karena faktor udah kepala dua, (Ya Allah! Udah tua. T_T) dan
sebagai ‘wanita dewasa’ aku secara naturally mulai menjaga dan lihat
penampilanku (dibuktikan dengan jumlah akun fashion atau olshop yang kuikuti di
instagram mengalami peningkatan pesat satu dua tahun terakhir). Dan yaaah. Jujur
saja, memiliki tubuh yang sangat kuruuus ini cukup merepotkan. Aku harus pandai
memilih atasan bawahan, mengurangi atau bahkan meniadakan penggunaan celana,
dan menggantinya dengan rok. Bentuk rok juga tidak bisa sembarangan, orang
kelewat kurus harus menghindri skinny
skirt atau pencil skirt dengan
ujung rok yang meruncing. Bahannya pun tidak semua bisa dipakai, jika ingin
terlihat bagus, hindari bahan-bahan seperti linen yang jatuh bebas jika dipakai.
Aku punya rok dengan bahan sejenis, namun dengan model lipit dan A line dengan
bagian bawah cukup lebar, jadi bisa dimaafkan.
Buat atasan, aku tidak bisa
sembarang pilih baju dengan model atau warna yang bagus. Aku sangat menghindari
tipikal pakaian dengan motif garis vertikal yang akan memperburuk visual
penampilanku. Atau warna hitam, segala jenis pakaian. Pernah suatu hari aku
diajak foto suatu organisasi di kampus, sebagai pelepasan akhir masa jabatan. Waktu
itu dress code-nya jilbab item, walaupun
aku ngebela diri nggak punya, tapi tetep aja kalah karena mereka lebih senior. Lol.
Kemudian aku datang, namun tetep
membelot dengan mengenakan jilbab abu-abu, tapi terus salah satu seniorku
memarahiku dan menyuruhku mencari jilbab hitam tidak pedulia bagaimana caranya,
jika tidak, pemotretan tidak akan dilakukan. Akhirnya untuk pertama kali, aku
terpaksa membelinya, walaupun akhir-akhir ini jarang dipakai. Lol.
Setelah mempunyai barang-barang yang
mumpuni pun aku tidak bisa seenaknya memadupadankan, karena jika gagal,
hasilnya akan sama saja. Karena itulah aku sangat menghindarkan penggunaan rok
dengan atasan yang tidak dimasukkan. Hal itu akan memberikan dua dampak, yang
pertama jika atasannya sempit, maka bentuk tubuh yang sesungguhnya akan
terlihat, yang kedua, jika atasannya terlalu besar, maka bentuk pinggul tidak
terlihat, alhasil seluruh tubuhmu akan seperti ditimpa kain berlapis-lapis, itu
sama saja dengan hasil diatas.
Penggunaan overall juga. Kalau bisa dihindarkan memakai daleman overall yang ketat. Bakal lebih stylish sebenernya kalau diatas overall
kita menimpanya kembali dengan outer.
Oh ya, lupa, aku rasa seorang ectomorph
wajib mempunyai kemeja atau outer
dengan ukuran sedikit kebesaran. Bakal membantu banget untuk memadupadankan,
juga menyamarkan bentuk tubuh yang kelewat kurus.
Jilbab yang digunakan juga, well,
aku muslim dan memakai hijab. Pemilihan keurudung dan bagaimana
pengaplikasiannya juga penting menurutku. Jangan terlalu ketat, jangan juga
terlalu melilit-lilit kepala. Dan yang paling penting, usahakan berikan ruang
lebar antara bahu dan kepala. Kalau boleh jujur mah sebenarnya model jilbab
syar’I yang tidak banyak model itu yang terbaik. Tapi kalau waktu ‘lenjeh’
dikit aku juga pakai pashmina, namun dengan model simple.
Nah, itu baru masalah fashion, udah
ribet kan? Aku sengaja gak bahas semuanya, karena bakal berpuluh-puluh lembar
pasti jadinya. Masalah seperti jam tangan, cincin, kaus kaki, sepatu, make up
dll masih banyak sebenarnya. Tapi lanjut ke masalah berikutnya, ialah masalah
psikologis. Ya Allah, judulnya gini amat yak. Wkwk. Tapi seriously, mungkin diantara semuanya ini psikologisku yang paling
menderita. Bagaimana tidak, berapa kali makan pun hampir mustahil aku bisa
gemuk. FYI aku makan dengan porsi cukup besar. Bukan cukup deng, bahkan
sangaaat besar. Aku sejujurnya sedikit gerah dengan omongan orang yang tidak
mengenalku, mengjustifikasi aku seenakdianya sendiri. Sering aku dibilang, “Tiaaa.
Kamu makan yang banyak sih, gemukin dikit,” “kamu jarang makan apa? Kerempeng gini?”
“Jangan terlalu hemat, makanlah yang banyak.”
Ya Allah. Rasanya aku pengen
berteriak, andai mereka tahu usahaku buat gemukin badan! Segala cara sudah aku
coba, well, cara yang paling mudah dan gak perlu bayar tentunya, lol. Mulai makan
banyak, minum air putih banyak, tidur banyak, olahraga, semua. Tapi selain
perut buncit tidak ada yang aku dapatkan. Buat gambaran aja berapa banyak
makanku, aku menghabiskan 50 persen lebih bulananku untuk makanan, 30 persen
untuk belanja baju dll dan sisanya buat keperluan lain. Sehari aku bisa makan
empat atau lima kali, itu kalo gak males. Karena aku anak kosan pemalas, kadang
cuma tiga dua kali sehari. Namun sekedar dua kali seharipun porsinya gak main
main. Ibarat balas dendam karena dua kali, biasanya sekali makan aku pesan dua
sampai tiga porsi, tentu saja makannya di kosan, kan malu. Wkwk. Tapi pernah
juga deng kadang kadang makan di restonya, biasanya pesan banyak banget dan
makan sendirian. Disitu aku cuek aja, sambil sok sokan akting kalau aku lagi
nunggu teman, dan ternyata temanku batal datang. Dan muka agak kesel karena
harus menghabiskan yang dipesan semuanya. Wakakak.
Lalu jangan pikir aku tidak suka
sayur. FYI lagi nih, aku semi vegetarian. Semua aku makan, tapi aku kurang suka
makanan hewani. Daging, ayam, telur, ikan aku makan setiap hari, namun lebih
sering tempe atau tahu atau perkedel. Tanpa hewani aku bisa dengan shiawase nya
(baca: bahagianya) makan. Tapi kalau gak ada sayurnya, sayur hijau ataupun
buah, aku mungkin gak akan menyentuh makanan itu kecuali emang udah titik
kepepet kelaperan. Aku juga rutin stok buah. Jeruk, buah naga, mangga, anggur, adalah
favoritku. Biasanya sih, satu-dua kilo jeruk bisa kuhabiskan paling lama dua
hari. Jangan kaget, itu wajar bagiku.
Belum lagi desert, well, aku suka
sekali roti keju. Ironically, aku
nggak suka cokelat. Atau makanan manis. Aku pikir, apa enaknya sih cairan
berwarna cokelat yang kelewat manis itu? Aku juga heran. Tapi itu yang sering
dibilang teman teman. Kamu ironis yaaa gak suka cokelat, gitu.
Aku memang kurang suka gorengan,
makanan berminyak. Tapi buat junk food
aku juga tidak kalah. Aku seperti orang kebanyakan, tetap cinta pizza, burger
dan kebab, well yaah semacam itu. Apalagi selada segar dan tomat merah. Hmmm.
*walaupun poinnya tetep ke sayur* juga mie, aku penggila mie. Benar benar. Sehari
pasti makan mie. Seminggu bisa lebih dari tujuh kali makan mie. Dari mie
instan, mie cup, bakmi jawa, pangsit dll. Apalagi aku kuliah di Jawa, surganya
bakmi jawa, sehari bisa dua tiga kali aku bolak balik makan mie. Serius.
Maka dari itu, dengan gilanya pola
makanku, KENAPA AKU TIDAK JUGA GEMUK? Orang lain yang mencoba pola makanku ini
pasti akan obesitas, aku yakin. Tapi aku, aku tidak mendapatkan apapun selain
perut buncit. Oh yaa… dan tawa ironis menyindir itu. Hmm.
Oh yaa. Selain itu aku juga sudah
mencoba hal-hal lain. Seperti obat cacing. Tapi nihil. Pernah dibilang teman
ibu waktu kelas dua SMP, “Tenang, nanti kalau sudah menstruasi pasti gendut,”
lalu aku jawab, “Tapi aku udah mens bulek.” Dia kaget dan menjawab terbata, “Ooh,
yaa. Pasti nanti pas nikah. Habis melahirkan pasti melar.” Dan sejak saat itu
aku tidak mempercayai omongan ibu-ibu yang memberikan nasehat, omongan yang aku
yakini kekosongannya.
Jadi seriuously, masalah ini
benar-benar menganggu pikiranku. Bagaimana katanya orang terlalu kurus mudah
penyakitan, susah hamil dll. Jadi aku cuma ingin menyampaikan orang-orang
diluar sana, jangan men-judge orang dengan fisiknya dengan begitu kasar tanpa
tahu apa yang dilewatinya untuk memperjuangkan memperbaiki hal itu. Gemuk dan
kurus, mungkin adalah akibat dari pola salah hidup seseorang. Tapi diluar itu,
banyak tipikal yang sebaliknya.
Terkhusus ke penderita ectomorph,
karena aku mengalaminya sendiri, JANGAN SEENAKNYA KOMENTAR, KAMU KURUS SEKALI,
ATAU MEMBANDINGKAN TANGANMU DAN TANGAN PARA PENDERITA ECTOMORPH YANG BEGITU KECIL DAN LEMAH DENGAN TANGANMU ITU. Kamu tidak
tahu apa yang sudah dilewatinya untuk itu….
Udah dulu deh, udah tiga setengah
lembar di MS. Word-ku, kupikir cukup. Ini sebagai curahan hati aja sih, maaf
kalau ada yang tersinggung atau apa. Tapi intinya… menilai orang secara fisik
itu perbuatan yang rendah sekali… maka dari itu, kalau ngerasa makhluk paling
tinggi mah sebaiknya menghindarkan itu. Berlaku juga untuk yang lain yang bakal
beribu-ribu kali lipat lebih bermasalah dari pada sekedar ectomorph. Yaaa, yuu
know lah maksudnya. Maaf juga kalau terkesan lenjeh dan manja, dan tidak
bersyukur, aku hanya mau cuhat aja. LOL.
Okee. Sekian. See you~ *entahkapan*
PS: Maaf juga buat template alay header, icon yang kekanakkanakkan. sejak tahun berapa ada blog ini? wkwk. Dan aku malas mengotak-atiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar