Selasa, 01 November 2016

Curhatan, Keluh-Kesah dan Masalah yang Dirasakan Oleh Penderita Ectomorph


          Udah lama gak nge-blog yaa. Huaaa. Meskipun aku juga ragu ada yang baca ini atau enggak. Lol. Well, tapi sebagai media buat mencurahkan keluh kesah, aku rasa gak ada salahnya.
            Beberapa waktu yang lalu pernah curhat masalah mata minus, dan bagaimana beratnya menjalani hari-hari ketika satu-satunya kacamata yang kaupunyai pecah, dan kau harus menjalani kehidupan dengan begitu buram, secara literally. Apalagi jika kau mempunyai tingkat mata minus yang kelewat tinggi.
            Setelah itu, aku juga ingin membuat pengakuan, aku adalah seorang penderita Ectomorph. Ectomorph sendiri adalah teori yang dikemukakan oleh prsikolog asal Amerika Serikat bernama William Sheldon pada tahun 40an mengenai teori somatotypes, sebuah pembagian bentuk tipe tubuh manusia. Teori ini mengkhususkan bahwa tubuh manusia itu dibagi menjadi tiga, yakni ectomorph, endomorph dan mesomorph. Well, aku gak akan bahas semuanya disini, namun intinya, dari ketiga tipa itu, aku termasuk ke dalam ectomorph, sebuah tipe bentuk tubuh yang mempunyai bentuk tubuh kelewat kurus, dengan problematika utama mereka adalah orang-orang yang antara struggling atau menikmati hidup, para penyantap makanan dalam porsi besar namun tetap kurus. Sebenernya gak semua ectomorph itu ‘pemakan segalanya’, namun jika dianalogikan, para ectomorph itu tidak bisa menyimpan lemak dalam jumlah besar, struktur tulang kecil, pinggul dan bahu yang sempir, wajah kecil dan jidat lebar. (seriuously, itu semua ciri gue banget. Wkwk). Walaupun makan setruk juga gak akan ada yang berubah kecuali perut yang membuncit. Orang-orang dengan tipe tubuh seperti ini biasasanya agak lemah, cukup mudah lelah, namun diluar itu, metabolism tubunya tinggi, sehingga jarang sakit.
            Sebenarnya aku sendiri sudah lama tahu bahwa aku menderita ectomorph, tapi entah kenapa aku yang biasanya cuek aja, cenderung mensyukuri anugerah bisa makan banyak tanpa takut gemuk, namun akhir akhir ini masalah ini jadi pikiran juga. Mungkin karena faktor udah kepala dua, (Ya Allah! Udah tua. T_T) dan sebagai ‘wanita dewasa’ aku secara naturally mulai menjaga dan lihat penampilanku (dibuktikan dengan jumlah akun fashion atau olshop yang kuikuti di instagram mengalami peningkatan pesat satu dua tahun terakhir). Dan yaaah. Jujur saja, memiliki tubuh yang sangat kuruuus ini cukup merepotkan. Aku harus pandai memilih atasan bawahan, mengurangi atau bahkan meniadakan penggunaan celana, dan menggantinya dengan rok. Bentuk rok juga tidak bisa sembarangan, orang kelewat kurus harus menghindri skinny skirt atau pencil skirt dengan ujung rok yang meruncing. Bahannya pun tidak semua bisa dipakai, jika ingin terlihat bagus, hindari bahan-bahan seperti linen yang jatuh bebas jika dipakai. Aku punya rok dengan bahan sejenis, namun dengan model lipit dan A line dengan bagian bawah cukup lebar, jadi bisa dimaafkan.
            Buat atasan, aku tidak bisa sembarang pilih baju dengan model atau warna yang bagus. Aku sangat menghindari tipikal pakaian dengan motif garis vertikal yang akan memperburuk visual penampilanku. Atau warna hitam, segala jenis pakaian. Pernah suatu hari aku diajak foto suatu organisasi di kampus, sebagai pelepasan akhir masa jabatan. Waktu itu dress code-nya jilbab item, walaupun aku ngebela diri nggak punya, tapi tetep aja kalah karena mereka lebih senior. Lol.
            Kemudian aku datang, namun tetep membelot dengan mengenakan jilbab abu-abu, tapi terus salah satu seniorku memarahiku dan menyuruhku mencari jilbab hitam tidak pedulia bagaimana caranya, jika tidak, pemotretan tidak akan dilakukan. Akhirnya untuk pertama kali, aku terpaksa membelinya, walaupun akhir-akhir ini jarang dipakai. Lol.
            Setelah mempunyai barang-barang yang mumpuni pun aku tidak bisa seenaknya memadupadankan, karena jika gagal, hasilnya akan sama saja. Karena itulah aku sangat menghindarkan penggunaan rok dengan atasan yang tidak dimasukkan. Hal itu akan memberikan dua dampak, yang pertama jika atasannya sempit, maka bentuk tubuh yang sesungguhnya akan terlihat, yang kedua, jika atasannya terlalu besar, maka bentuk pinggul tidak terlihat, alhasil seluruh tubuhmu akan seperti ditimpa kain berlapis-lapis, itu sama saja dengan hasil diatas.
            Penggunaan overall juga. Kalau bisa dihindarkan memakai daleman overall yang ketat. Bakal lebih stylish sebenernya kalau diatas overall kita menimpanya kembali dengan outer. Oh ya, lupa, aku rasa seorang ectomorph wajib mempunyai kemeja atau outer dengan ukuran sedikit kebesaran. Bakal membantu banget untuk memadupadankan, juga menyamarkan bentuk tubuh yang kelewat kurus.
            Jilbab yang digunakan juga, well, aku muslim dan memakai hijab. Pemilihan keurudung dan bagaimana pengaplikasiannya juga penting menurutku. Jangan terlalu ketat, jangan juga terlalu melilit-lilit kepala. Dan yang paling penting, usahakan berikan ruang lebar antara bahu dan kepala. Kalau boleh jujur mah sebenarnya model jilbab syar’I yang tidak banyak model itu yang terbaik. Tapi kalau waktu ‘lenjeh’ dikit aku juga pakai pashmina, namun dengan model simple.
            Nah, itu baru masalah fashion, udah ribet kan? Aku sengaja gak bahas semuanya, karena bakal berpuluh-puluh lembar pasti jadinya. Masalah seperti jam tangan, cincin, kaus kaki, sepatu, make up dll masih banyak sebenarnya. Tapi lanjut ke masalah berikutnya, ialah masalah psikologis. Ya Allah, judulnya gini amat yak. Wkwk. Tapi seriously, mungkin diantara semuanya ini psikologisku yang paling menderita. Bagaimana tidak, berapa kali makan pun hampir mustahil aku bisa gemuk. FYI aku makan dengan porsi cukup besar. Bukan cukup deng, bahkan sangaaat besar. Aku sejujurnya sedikit gerah dengan omongan orang yang tidak mengenalku, mengjustifikasi aku seenakdianya sendiri. Sering aku dibilang, “Tiaaa. Kamu makan yang banyak sih, gemukin dikit,” “kamu jarang makan apa? Kerempeng gini?” “Jangan terlalu hemat, makanlah yang banyak.”
            Ya Allah. Rasanya aku pengen berteriak, andai mereka tahu usahaku buat gemukin badan! Segala cara sudah aku coba, well, cara yang paling mudah dan gak perlu bayar tentunya, lol. Mulai makan banyak, minum air putih banyak, tidur banyak, olahraga, semua. Tapi selain perut buncit tidak ada yang aku dapatkan. Buat gambaran aja berapa banyak makanku, aku menghabiskan 50 persen lebih bulananku untuk makanan, 30 persen untuk belanja baju dll dan sisanya buat keperluan lain. Sehari aku bisa makan empat atau lima kali, itu kalo gak males. Karena aku anak kosan pemalas, kadang cuma tiga dua kali sehari. Namun sekedar dua kali seharipun porsinya gak main main. Ibarat balas dendam karena dua kali, biasanya sekali makan aku pesan dua sampai tiga porsi, tentu saja makannya di kosan, kan malu. Wkwk. Tapi pernah juga deng kadang kadang makan di restonya, biasanya pesan banyak banget dan makan sendirian. Disitu aku cuek aja, sambil sok sokan akting kalau aku lagi nunggu teman, dan ternyata temanku batal datang. Dan muka agak kesel karena harus menghabiskan yang dipesan semuanya. Wakakak.
            Lalu jangan pikir aku tidak suka sayur. FYI lagi nih, aku semi vegetarian. Semua aku makan, tapi aku kurang suka makanan hewani. Daging, ayam, telur, ikan aku makan setiap hari, namun lebih sering tempe atau tahu atau perkedel. Tanpa hewani aku bisa dengan shiawase nya (baca: bahagianya) makan. Tapi kalau gak ada sayurnya, sayur hijau ataupun buah, aku mungkin gak akan menyentuh makanan itu kecuali emang udah titik kepepet kelaperan. Aku juga rutin stok buah. Jeruk, buah naga, mangga, anggur, adalah favoritku. Biasanya sih, satu-dua kilo jeruk bisa kuhabiskan paling lama dua hari. Jangan kaget, itu wajar bagiku.
            Belum lagi desert, well, aku suka sekali roti keju. Ironically, aku nggak suka cokelat. Atau makanan manis. Aku pikir, apa enaknya sih cairan berwarna cokelat yang kelewat manis itu? Aku juga heran. Tapi itu yang sering dibilang teman teman. Kamu ironis yaaa gak suka cokelat, gitu.
            Aku memang kurang suka gorengan, makanan berminyak. Tapi buat junk food aku juga tidak kalah. Aku seperti orang kebanyakan, tetap cinta pizza, burger dan kebab, well yaah semacam itu. Apalagi selada segar dan tomat merah. Hmmm. *walaupun poinnya tetep ke sayur* juga mie, aku penggila mie. Benar benar. Sehari pasti makan mie. Seminggu bisa lebih dari tujuh kali makan mie. Dari mie instan, mie cup, bakmi jawa, pangsit dll. Apalagi aku kuliah di Jawa, surganya bakmi jawa, sehari bisa dua tiga kali aku bolak balik makan mie. Serius.
            Maka dari itu, dengan gilanya pola makanku, KENAPA AKU TIDAK JUGA GEMUK? Orang lain yang mencoba pola makanku ini pasti akan obesitas, aku yakin. Tapi aku, aku tidak mendapatkan apapun selain perut buncit. Oh yaa… dan tawa ironis menyindir itu. Hmm.
            Oh yaa. Selain itu aku juga sudah mencoba hal-hal lain. Seperti obat cacing. Tapi nihil. Pernah dibilang teman ibu waktu kelas dua SMP, “Tenang, nanti kalau sudah menstruasi pasti gendut,” lalu aku jawab, “Tapi aku udah mens bulek.” Dia kaget dan menjawab terbata, “Ooh, yaa. Pasti nanti pas nikah. Habis melahirkan pasti melar.” Dan sejak saat itu aku tidak mempercayai omongan ibu-ibu yang memberikan nasehat, omongan yang aku yakini kekosongannya.
            Jadi seriuously, masalah ini benar-benar menganggu pikiranku. Bagaimana katanya orang terlalu kurus mudah penyakitan, susah hamil dll. Jadi aku cuma ingin menyampaikan orang-orang diluar sana, jangan men-judge orang dengan fisiknya dengan begitu kasar tanpa tahu apa yang dilewatinya untuk memperjuangkan memperbaiki hal itu. Gemuk dan kurus, mungkin adalah akibat dari pola salah hidup seseorang. Tapi diluar itu, banyak tipikal yang sebaliknya.
        Terkhusus ke penderita ectomorph, karena aku mengalaminya sendiri, JANGAN SEENAKNYA KOMENTAR, KAMU KURUS SEKALI, ATAU MEMBANDINGKAN TANGANMU DAN TANGAN PARA PENDERITA ECTOMORPH YANG BEGITU KECIL DAN LEMAH DENGAN TANGANMU ITU. Kamu tidak tahu apa yang sudah dilewatinya untuk itu….
            Udah dulu deh, udah tiga setengah lembar di MS. Word-ku, kupikir cukup. Ini sebagai curahan hati aja sih, maaf kalau ada yang tersinggung atau apa. Tapi intinya… menilai orang secara fisik itu perbuatan yang rendah sekali… maka dari itu, kalau ngerasa makhluk paling tinggi mah sebaiknya menghindarkan itu. Berlaku juga untuk yang lain yang bakal beribu-ribu kali lipat lebih bermasalah dari pada sekedar ectomorph. Yaaa, yuu know lah maksudnya. Maaf juga kalau terkesan lenjeh dan manja, dan tidak bersyukur, aku hanya mau cuhat aja. LOL.

            Okee. Sekian. See you~ *entahkapan*

PS: Maaf juga buat template alay header, icon yang kekanakkanakkan. sejak tahun berapa ada blog ini? wkwk. Dan aku malas mengotak-atiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar