Katanya
sih ada yang apdet gak akan sembarangan nulis blog lagi. Hahaha. Tapi yaudahlah.
Sekalipun akan membatasi curhatan-curhatan absurd,
tidak menutup kemungkinan aku buat nulis lagi.
Tulisan
hari ini berawal kejadian ku untuk pertama kalinya dalam hidup beli sate
sendiri. Yaah, apalagi di perantauan. Di Lampung, asalku sana ada sebuah warung
sate langganan, Bang Hasan namanya. Jadi untuk pertama kalinya dalam hidup, aku
beli selain di tempat bang Hasan. Oke, ini gak penting sih. Hahahaha.
Anyway…
Bagiku sate bukanlah makanan sembarangan. Walaupun masih banyak yang lebih
mewah, dan jujur saja soal makanan aku tidak ambil pikir untuk beli apa, dimana
atau seberapa banyak. Jika aku ingin, aku pasti akan segera membelinya. Namun di
keluargaku, sate itu seperti makanan mewah. Mungkin karena basic nya keluargaku
jarang jajan di luar. Ibuku penggemar kegiatan masak, jadi diusahakan walaupun
schedule dia lebih sibuk daripada aku, dia selalu memberikan waktu untuk
memasak untuk keluarganya.
Sate
di keluarga kami tidak begitu saja bisa dibeli setiap hari. Walaupun mungkin
ibukku berpikir gak begitu, tapi aku merasakannya. Dahulu, saat adikku yang
sekarang berbobot 80kg itu masih susah makan sayur, dia selalu merengek minta
sate, atau kalo enggak mie pangsit. Namun, jelas ibukku yang pelit (heheh, maaf
Bu) tidak begitu saja memberinya izin. Namun ketika salah satu diantara aku
atau adikku sakit, sate jugalah yang menjadi makanan ‘sogokkan’ agar kami cepat
sembuh. Dengan mudah beliau atau ayahku mengeluarkan motornya untuk membelikan
kami itu. Padahal, sampai sekarang, aku gak tau apa korelasinya makan makanan
enak saat sakit padahal makanan itu tidak membantu pengobatan sama sekali. Wkwkwk.
Tapi yang namanya orang tua. Aku yakin, mereka yakin makanan enak bisa
memotivasi kami untuk kuat dan sembuh dari penyakit.
“Bapak
beliin sate ya? Mau? Apa sop kambing?”
Biasanya
bapak yang mengutarakan ide itu.
Atau
setelah itu, “Udah tak beliin sate, cepet sembuh ya.” Atau “Kalo gak sembuh
piye. Udah dibeliin maHal maHal.”
Bahkan
nada suara bapakku yang punya kebiasaan mengkapitalkan huruf H ketika bicara
pun teringat jelas.
Porsi
yang kemi beli biasanya 10 tusuk, sate ayam, atau sate kambing. Biasanya sih
kambing, favorit ayahku, dengan bumbu kecap. Dan karena jumlah anggota keluarga
kami ada 4, biasanya kami membanginya menjadi 3:3:2:2. Aku dan adikku selalu
mendapatkan bagian 3 tusuk. Bahkan terkadang orang tuaku bisa tidak makan dan
menyisakan bagiannya untuk adikku yang saat itu masih terlalu kecil untuk peka.
“Jangan
rebutan! Tia 3, Daus 3, Ibu Bapak 2!”
Begitu
yang selalu ibukku katakan.
Hingga saat
aku menulis ini pun, nada bicaranya, tinggi rendah suara beliau terekam jelas
di otakku.
Karena
mungkin kebiasaan itu, mungkin ada suatu stigma di kepalaku, bahwa sate adalah
makanan paling mewah sedunia. Kau tidak bisa memakannya kecuali membujuk ibu,
atau kamu sakit, yang dua duanya punya konsekuensi besar. Atau setelah beli
pun, kau tidak akan dapat jatah lebih dari tiga tusuk, karena apapun yang
terjadi sate yang keluargaku beli tidak lebih dari sepuluh tusuk untuk sekeluarga.
Karena
itu pula, sebisa mungkin, walaupun aku dibilang suka yaa biasa aja, aku selalu
menahan diri untuk tidak beli sate. Apalagi di tanah perantauan. Liat warung
sate bikit hatiku ngilu. Ngilu bagaimana ingat aku dan adikku berebut tusuk
tusuk daging itu, ngilu bagaimana suara ‘alay’ ayahku yang selalu berusaha
membujuk anak-anaknya yang sakit dengan makanan mewah. Ngilu bagaimana
perjuangan dulu keluarga kami agar tidak boros, sedangkan aku disini
menghambur-hamburkan uang seolah aku bisa minta kapan saja dan berapa saja.
Dan
ngilu, bagaimana aku sekarang, memakan 10 tusuk sendirian.
Dan
disitu pula aku sadar, rasa sate disini tidak seenak sate disana. Bukannya aku
membanggakan sate Bang Hasan. Haha. Tapi tanpa pertengkaran dengan adikku,
teriakan keras dari ibukku, dan bujukan manis ayahku, sate tu terasa hambar. Ternyata,
bagaimanapun juga, 3 tusuk sate disana lebih nikmat daripada sate apapun di
dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar