Jumat, 09 Desember 2016

Anak Kos dan Sepuluh Tusuk Sate Ayam

            Katanya sih ada yang apdet gak akan sembarangan nulis blog lagi. Hahaha. Tapi yaudahlah. Sekalipun akan membatasi curhatan-curhatan absurd, tidak menutup kemungkinan aku buat nulis lagi.
            Tulisan hari ini berawal kejadian ku untuk pertama kalinya dalam hidup beli sate sendiri. Yaah, apalagi di perantauan. Di Lampung, asalku sana ada sebuah warung sate langganan, Bang Hasan namanya. Jadi untuk pertama kalinya dalam hidup, aku beli selain di tempat bang Hasan. Oke, ini gak penting sih. Hahahaha.
            Anyway… Bagiku sate bukanlah makanan sembarangan. Walaupun masih banyak yang lebih mewah, dan jujur saja soal makanan aku tidak ambil pikir untuk beli apa, dimana atau seberapa banyak. Jika aku ingin, aku pasti akan segera membelinya. Namun di keluargaku, sate itu seperti makanan mewah. Mungkin karena basic nya keluargaku jarang jajan di luar. Ibuku penggemar kegiatan masak, jadi diusahakan walaupun schedule dia lebih sibuk daripada aku, dia selalu memberikan waktu untuk memasak untuk keluarganya.
            Sate di keluarga kami tidak begitu saja bisa dibeli setiap hari. Walaupun mungkin ibukku berpikir gak begitu, tapi aku merasakannya. Dahulu, saat adikku yang sekarang berbobot 80kg itu masih susah makan sayur, dia selalu merengek minta sate, atau kalo enggak mie pangsit. Namun, jelas ibukku yang pelit (heheh, maaf Bu) tidak begitu saja memberinya izin. Namun ketika salah satu diantara aku atau adikku sakit, sate jugalah yang menjadi makanan ‘sogokkan’ agar kami cepat sembuh. Dengan mudah beliau atau ayahku mengeluarkan motornya untuk membelikan kami itu. Padahal, sampai sekarang, aku gak tau apa korelasinya makan makanan enak saat sakit padahal makanan itu tidak membantu pengobatan sama sekali. Wkwkwk. Tapi yang namanya orang tua. Aku yakin, mereka yakin makanan enak bisa memotivasi kami untuk kuat dan sembuh dari penyakit.
            “Bapak beliin sate ya? Mau? Apa sop kambing?”
            Biasanya bapak yang mengutarakan ide itu.
            Atau setelah itu, “Udah tak beliin sate, cepet sembuh ya.” Atau “Kalo gak sembuh piye. Udah dibeliin maHal maHal.”
            Bahkan nada suara bapakku yang punya kebiasaan mengkapitalkan huruf H ketika bicara pun teringat jelas.
            Porsi yang kemi beli biasanya 10 tusuk, sate ayam, atau sate kambing. Biasanya sih kambing, favorit ayahku, dengan bumbu kecap. Dan karena jumlah anggota keluarga kami ada 4, biasanya kami membanginya menjadi 3:3:2:2. Aku dan adikku selalu mendapatkan bagian 3 tusuk. Bahkan terkadang orang tuaku bisa tidak makan dan menyisakan bagiannya untuk adikku yang saat itu masih terlalu kecil untuk peka.
            “Jangan rebutan! Tia 3, Daus 3, Ibu Bapak 2!”
            Begitu yang selalu ibukku katakan.
Hingga saat aku menulis ini pun, nada bicaranya, tinggi rendah suara beliau terekam jelas di otakku.
            Karena mungkin kebiasaan itu, mungkin ada suatu stigma di kepalaku, bahwa sate adalah makanan paling mewah sedunia. Kau tidak bisa memakannya kecuali membujuk ibu, atau kamu sakit, yang dua duanya punya konsekuensi besar. Atau setelah beli pun, kau tidak akan dapat jatah lebih dari tiga tusuk, karena apapun yang terjadi sate yang keluargaku beli tidak lebih dari sepuluh tusuk untuk sekeluarga.
            Karena itu pula, sebisa mungkin, walaupun aku dibilang suka yaa biasa aja, aku selalu menahan diri untuk tidak beli sate. Apalagi di tanah perantauan. Liat warung sate bikit hatiku ngilu. Ngilu bagaimana ingat aku dan adikku berebut tusuk tusuk daging itu, ngilu bagaimana suara ‘alay’ ayahku yang selalu berusaha membujuk anak-anaknya yang sakit dengan makanan mewah. Ngilu bagaimana perjuangan dulu keluarga kami agar tidak boros, sedangkan aku disini menghambur-hamburkan uang seolah aku bisa minta kapan saja dan berapa saja.
            Dan ngilu, bagaimana aku sekarang, memakan 10 tusuk sendirian.

            Dan disitu pula aku sadar, rasa sate disini tidak seenak sate disana. Bukannya aku membanggakan sate Bang Hasan. Haha. Tapi tanpa pertengkaran dengan adikku, teriakan keras dari ibukku, dan bujukan manis ayahku, sate tu terasa hambar. Ternyata, bagaimanapun juga, 3 tusuk sate disana lebih nikmat daripada sate apapun di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar