Jendela-jendala kereta itu kabur, berlalu dengan
cepat. Diiringi suara derit gesekan rel kereta dan klakson yang berisik. Perlu
beberapa menit hingga pandangan di depan mata hanyalah sulaman malam yang
kelam, rerumputan hitam, dan suasana suram.
Suasana semestinya tak sesunyi ini. Semestinya kita
banyak bicara. Semestinya ada peluk, senyuman mungkin kecupan yang akan
dikenang hingga bertahun kedepan. Bahkan semestinya ada tangisan, atau
setidaknya suara lain selain suara jangkrik yang memekik pelan dikejauhan sana,
atau napas pelan dari kita berdua.
Tapi tidak ada. Sama sekali.
Kau duduk tak jauh di samping kananku, memakai baju kotak-kotak yang sudah sangat kukenal. Aku tahu kau tidak begitu memiliki baju lain. Dan celana itu… begitu seringnya ketumpahan kopi setidaknya tiga kali dalam satu bulan. Warnanya sudah pudar, gara-garanya pun aku tahu, kau begitu sibuk dengan dirimu sendiri dan memperdulikan orang lain alih-alih pakaian yang kau jemur; kau selalu lupa mengangkatnya hingga berhari hari tergantung. Sepatu itu… mungkin tidak banyak yang tahu, tapi salah satu favoritmu. Ya. Aku tahu. Setiap inci dari dirimu. Tapi aku tidak mengatakannya.
Kau mendapatiku memperhatikanmu dan menatap kaget, terheran. Aku memberikan senyum tipis sebelum kembali memandang ke depan. Sebentar lagi keretamu datang.
Dan aku benar…
Lewat 13 menit dari jadwal yang seharusnya, tapi kau tidak pernah protes kan? Bahkan ketika orang-orang yang turun di peron stasiun ini terburu-buru keluar dan menabrakmu dengan sangat tidak etis. Kau hanya berdiri, diam saja. Hingga seluruh penumpang telah keluar dan kau harus masuk.
Kau menoleh kearahku, sekali lagi. Aku tahu ada begitu banyak hal yang harus kau ucapkan, banyak hal yang seharusnya kau ucapkan selama tiga puluh menit yang lalu kita berdiam disini. Mulutmu terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu. Matamu, mencerminkan perasaan yang aku tahu apa itu, tapi tak pernah kuakui.
Kemudian kau tampak menyerah, dan hanya mengatakan, “Terima kasih. Senang bertemu denganmu.”
Aneh. Kenapa kau mengatakan kata-kata yang biasanya orang ucapkan pada awal perkenalan?
Bodoh.
Dan akupun hanya memberikan senyum tipis dan mengangguk.
*
Jendela-jendala kereta itu kabur, berlalu dengan
cepat. Seiring airmataku yang mengalir deras, tanpa kusadari. Entah kenapa
perasaan bisa begitu sesulit ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar