Senin, 02 September 2019

Musim dan Tetes Hujan


Jika aku bisa melabeli diri seseorang, akan kusebut dirimu pengacau. Musim memanas hingga minggu lalu, dan kau kemudian permisi hadir membawa percikan percikan air hujan yang seharusnya tidak ada saat ini. Aku suka panas. Dan aku ingin musim selamanya seperti itu.

Aku mendengar tetesan-tetesan hujan yang kau bawa itu sedari jauh. Sejujurnya, ketika orang-orang memakai baju tipis dan bikini, anak anak bermain bola dan pasir di tepi pantai atau kolam renang buatan, aku tidak menyangka kau akan hadir dan membuat mereka sedih. Aku sendiri tidak sedih, aku hanya tidak menyangka kau kembali pada saat ini.

Kau sampai di depan mataku sambil meringis, dan tertawa renyah, khasmu itu. Kau mengulurkan tanganmu yang basah, dan aku menatap bajumu yang kuyup dari atas sampai bawah. Sekali lagi, aku berpikir, kau seharusnya tidak berada disini sekarang. Orang-orang di tepi pantai itu melihatmu aneh, beberapa bahkan menunjuk-nunjuk ke arahmu dengan tawa mengejek. Aku telah memberitahumu, tapi senyummu malah justru bertambah lebar.

Dulu sekali, kau pernah datang pada saat musim semi sedang mekar-mekarnya. Memperkenalkan diri sebagai hujan, kau perlahan-lahan menawarkan diri untuk membasahiku. Aku menolak. Tidak terlalu berbeda seperti sekarang, aku berkata bahwa aku suka musim semi. Bunga-bunga membuatku tenang. Angin sejuk membuatku perlahan-lahan lenyap terbawa waktu. Aku katakan, aku ingin musim semi ini berlangsung selamanya. 

Tapi senyummu yang kadang membuatku ingin memukulmu karena begitu menjengkelkan itu semakin lebar. Hingga perlahan, kau menarikku dalam gerimis kecil-kecil yang masih kuingat aku tidak menyukainya.

"Tidak apa-apa."

Aku mengernyitkan dahi. Tidak tidak apa-apa. Aku tahu musimku bagaimanapun akan terpengaruh. Gerimis membuat kelopak bunga-bunga yang sedang dalam mekarnya rontok. Rumput-rumput akan layu merunduk karena air yang turun semakin banyak. Aku tidak suka perubahan ini, tapi tidak membencinya. 

Tapi entah bagaimana, aku mendapati diriku mengangguk. Dan kemudian, menyesal tak lama setelah itu.

Kau menarikku ke dalam hujan yang sama sekali bukan lagi gerimis. Tetes-tetes air langit itu makin lama makin banyak, makin sering. Hujan turun sebagaimana mereka menyebutnya deras. Aku takut. Aku menggigil. Orang-orang yang sedang berjalan menggunakan mantel tipis itu berlarian menghindar. Sebagaian mengutuk, yang lain menangis. 

Ini terlalu deras. Kata ku lirih.

Tapi kau hanya tersenyum. Namun dengan senyum yang berbeda dengan sebelumnya. Sebelum tak lama kemudian, kamu menghilang.

Saat itu, aku bertekad untuk tidak mau masuk ke dalam hujan lagi. Bagaimanapun itu, bagaimana kau bilang sejuknya, kecilnya, atau hanya sedikit saja. 

Sekarang, kau menawarkan tanganmu yang seperti biasa basah itu kepadaku. Aku menipiskan bibir, menggeleng kecil. Tidak seperti waktu itu, kau tidak lagi meringis, melainkan hanya tersenyum kecil. Matamu memancarkan sesuatu yang mengingatkanku pada musim semi yang lalu. Bajumu masih basah seperti biasa, namun sesuatu membuatmu seperti sendu. 

Kau tidak membujukku atau meraih tanganku seperti yang lalu. Menunggu, sambil terus menjulurkan tangan itu. Aku skeptis, namun entah bagaimana jariku tergerak untuk meraih tanganmu.

Lagi lagi, ada sesuatu yang membuat tubuhku menyukaimu.

Sambil terus tersenyum tipis, kau lagi-lagi membawaku ke dalam gerimis kecil dalam lingkaranmu. Air kali ini sejuk dan sedikit hangat. Dia tidak terlalu kencang, dan tidak melukaiku. Aku tidak mendapati tubuhku menggigil, atau demam. Orang-orang yang di dekat pantai sana masih riang, meskipun beberapa membereskan barangnya untuk berkemas. 

Aku menatapnya, kemudian tersenyum tepat di depannya, "Hari ini tanpa sengaja aku memakai dress terbaikku. Aku akan membencimu seumur hidup jika kau membuatnya rusak lagi dengan airmu."

"Tidak apa-apa." katamu pendek, sambil tetap tersenyum. 

Orang-orang di pantai itu semakin lama semakin mengutuk. Aku mendengarnya sayup-sayup dari jauh. Aku harap dalam waktu dekat, mereka bisa berdamai dengan hujan dan pantai ini. Atau jika tidak, mereka akan merutukiku yang basah kuyup dalam hujan di tengah musim panas ini. 

Namun apapun itu, aku mendapati diriku tidak peduli bagaimana. Asalkan aku tetap dalam hujan ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar